mount prau: another love story

This post is long overdue. I should have written it a couple of months ago, but you know, there have always been more urgent things to do, or in my case, more “urgent” things to share. Yeah, this is how my scattered mind works –always jumping from one thing to another. Anyway.

This trip was from last August. My friend and I have planned it long before. We wanted to go to Dieng to see the famous Dieng Festival –a cultural events celebrated by the highland people who live in Dieng Plateau in Central Java. Every year they conduct a kind of celebration during which people give offerings to their gods with hopes to be given back good harvests and fortune year.

Too bad we can not get the tickets to enter the festival, they have been sold out long before the date of the festival! So, we decided to just go hiking to a nearby mountain, Mount Prau. This time my friend took me to a backpacking trip. We joined an open-group trip organized by my friend’s friend. There were about 20 of us joining this trip.

From Jakarta, we took an economy-class train. Nowadays, economy train is as good as the higher-class train –with air condition, and proper seats. It is just the seat is not as comfortable as the executive class. Compared to 5 years ago, when the seat was not prearranged, and whenever the train stopped at any station, food sellers and basically anybody can get on the train making the trip uncomfortable and unsecured. The trip was from Kota Station in Jakarta to Purwekerto –a small town in Cetral Java. The trip took about 12 hours.

IMG_4135.JPG

IMG_4136.JPG

Around 9 AM, we arrived in Purwokerto. To go to Dieng we took a bus ride for about 3-4 hours.

IMG_4161.JPG

IMG_4163.JPG

IMG_4155.JPG

By the time we arrived in Dieng, the area had been already full with people who would see the festival. Traffic jam was everywhere. We stayed at a home stay. It was a nice house owned by a very nice lady. All people in our group stayed there. After having lunch, we went to the Danau Warna. It is a beautiful lake –still had a strong sulphuric smell, and so many caves. This place is considered as a sacred place, where people doing meditation and seek for enlightenment.

IMG_4316.JPG

IMG_4649.JPG

After visiting the lake area and having dinner, we came back to the home stay and took a rest. Some people went out to see the festival, but I preferred to get some sleep because we would start our hiking trip at 2 AM in the morning.

At 2 AM, we started our trip to Mount Prau. It was freezing cold, but fortunately the track was not so hard, although still, since it was quite a high mountain, the trip was also tiring. Because it was dark we couldn’t really see what was around us, or how the track was. At around 5 AM, we arrived at the place where we can see the beautiful sunrise. The location was near the tower of a phone provider. From here we saw how the sun slowly rose and replace the darkness with its golden light. Such a beauty! At first I thought this place was the peak of Mount Prau, but then I realized it was just half of the trip going to the real peak!

IMG_4768.JPG

When the sun fully shone, we continued our hiking trip to Mount Prau. We have to go up and down some hills. People called the track and the hills ‘The Teletubbies Hills’. Don’t ask me why, because I don’t know, until now. The special things about hiking to Mt. Prau is that we can see the view of 5 different mountains that surround the Dieng Plateu. At one peak of a hill, we can see down the whole Dieng Plateu. And afar, we can see the peak of Mt. Slamet. At the time I was there, Mt. Slamet had been “coughing” a bit. Thank God, it didn’t affect the situation in Dieng and Mt. Prau.

IMG_4691.JPG

IMG_4592.JPG

IMG_4635.JPG

IMG_4600.JPG

After several more hills, we arrived at the peak of Mt. Prau! It was signed with a plackard, showing its altitude. Too bad that people who camped in the area littered so much. My friends had planned that we would also do scavenging –took as much garbages as we could and brought them down from the mountain. It was really a pitty that many of us only wanted to just enjoy themselves of the beautiful view but too ignorance and stupid to litter, hence destroyed the beauty.

IMG_4590.JPG

And just like my feeling towards other mountains, there, again, I feel in love. Unfortunately I couldn’t stay longer there. One thing I promised myself, I must come there again next time; not only for scavenging, but really stay and camp up there.

kerinci i’m in love, part-2

Esok paginya, tanggal 31 Desember 2013, kami bersiap lagi melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah langsung ke Shelter-3 –perhentian terkahir sebelum perjalanan menuju puncak dan atap Sumatera. Kali ini, aku bergabung dengan grup kecil para pendaki gaek yang happy happy joy joy dan selalu bercanda sepanjang perjalanan. Grup ini juga adalah grup sweeper, artinya grup paling belakang yang memastikan bahwa semua anggota rombongan memang dipastikan telah lewat. Track dari Shelter-1 ke Shelter-2 ini bahkan lebih menanjak lagi, dan seringkali juga tanjakan harus dilalui dengan memanjat dengan bergantung pada akar-akar pepohonan.

photo 1

 

IMG_5987

Dan perjalanan selanjutnya, dari Shleter-2 ke Shelter-3 adalah fase yang benar-benar menguji ketahanan fisik dan mentalku secara pribadi. Pada track ini, kami harus berpindah-pindah dan memilih-milih apakah harus berjalan melewati ceruk yang menjadi jalan air, ataukah lewat bibir gunung, memanjat dan bergantungan pada batang dan akar pohon. Dari seuruh jalur pendakian, jalur inilah yang terberat menurutku 0–misalnya saja, dari satu pijakan ke pijakan lain dengkul kita bisa menyentuh dada sakin tingginya. Satu yang kami mohonkan, agar hujan lebat tidak turun. Jika hujan lebat turun, maka cerukan yang kami lewati akan menjadi jalur air, dan akan sulit berjalan sambil melawan aliran air hujan yang mengalir ke bawah. Dengan kemiringan lereng yang cukup tajam, niscaya aliran air akan deras. Di track ini pulalah di satu titik aku nyaris putusa asa dan ingin menangis rasanya, akibat kehilangan fokus sehingga sulit bagiku memilih pijakan dan ke mana harus bergerak. Yang membuatku kehilangan fokus adalah teriakan-teriakan dan seruan kegembiraan orang-orang yang sudah sampai di Shelter-3 yang terdengar sampai di tempatku berada, membuatkau ingin segera sampai di sana. Namun di sisi lain pula kurasakan mengapa perjalanan ini tak ada habis-habisnya, dan mengapa tak juga sampai aku di Shelter-3 tersebut. Beruntung aku bersama para pendaki senior yang siap siaga membantuku, mengulurkan tangan, menunjukkan ke mana kakiku harus kupijakkan, dan ke mana aku harus bergerak.

IMG_6015

Pada satu posisi yang relatif aman, tak sengaja aku menengok ke belakang dari bibir lereng. Dan Subhanallaah pemandangan yang kulihat membuat mulutku ternganga dan ingin menangis karena haru rasanya. Gumpalan awan putih dan semburat jingga matahari yang mulai terbenam adalah pemandangan senja terindah yang pernah kualami seumur hidupku. Awan-awan seputih kapas ada di depan kita seakan-akan kasur empuk yang menunggu untuk dilompati ke atasnya. Dan tak kusia-siakan kesempatan itu untuk berfoto-foto sejenak, sambil mengatur nafas, mengembalikan fokusku pada pendakian, dan memicu semangat lagi.

photo 5

photo 4

photo 21

Menjelang Maghrib, sampailah rombongan kami di Shelter-3. Angin keras menerpa begitu kami tiba di Shelter-3 yang memang posisinya terbuka mirip lapangan kecil. Dingin udara bercampur angin menusuk hingga ke tulang. Seluruh persediaan jacket akhirnya aku pakai –jacket polar di paling dalam, lalu jacket windbreaker dan jacket raincoat. Tak lupa kupluk dan sarung tangan pun aku kenakan. Kembali aku menatap tiada henti tumpukan awan putih tebal yang ada di bawahku –ya, aku literally berada di negeri di atas awan, serta semburat matahari yang perlahan menghilang dan mengubah sekelilingku menjadi semesta berwarna biru. Tak ingin rasanya mata ini berkedip agar bisa kuabadikan pemandangan indah ini di dalam benakku selamanya.

photo 22

photo 20

Malam itu tidurku tak terlalu nyenyak. Angin keras menderu-deru. Udara dingin menusuk menembus sleeping bag-ku. Tenda kami cukup besar dan tinggi sehingga angin leluasa masuk ke dalam. Ini pelajaran bagi tim untuk tidak membawa tenda besar ke atas gunung. Berkali-kali aku buang air kecil akibat udara dingin, yang terpaksa kulakukan tak jauh dari tenda karena cuaca gelap sehingga sulit berjalan terlalu jauh.

Dan saat yang dinanti-nanti pun tiba. Sejenak angin berhenti bertiup. Semua orang keluar dari tenda dan merayakan tahun baru!! Yeiiyyy!! Riuh rendah suara orang berteriak-teriak. Bahkan ada yang membawa terompet dan kembang api. Letupan warna-warni menerangi angkasa yang beku. Namun aku tak kuasa bergerak dari posisi nyamanku di dalam sleeping bag. Biarlah mereka-mereka bergembira. Bagiku tahun baru sama saja. Hanya kali ini aku tak merayakannya bersama keluarga di rumah. Dan lucunya, setelah perayaan yang berlangsung sekitar 10-15 menit, angin kembali menderu-deru. Dalam hati kuputuskan bahwa aku akan berdiam saja di tenda dan tak akan naik ke puncak. Manalah aku berani menghadapi angin yang menderu-deru seolah ingin menerbangkanku.

Maka ketika kawanku si Mukri membangunkan aku sekitar jam 3 dini hari untuk mengajakku ke puncak, kutolak ajakannya. Kubilang aku sudah bulat hati tidak mau ke puncak. Mendengar suara angin yang menderu-deru saja sudah ciut nyaliku. Apalagi harus berjalan di tengah-tengahnya. Maka berangkatlah Mukri dengan rombongan pertama menuju puncak Kerinci di 3.805 meter di atas permukaan laut. Sekita jam 04.30 kawanku Nik serta para pendaki senior lainnya, kembali membangunkanku untuk mengajak ke puncak. Semula aku masih bertahan untuk tidak ikut, namun entah kenapa hati kecilku mendorong untuk ikut saja. I am in a good hand. Jangan khawatir, mereka pasti menjagaku –begitu kata hati kecil, yang kemudian kuikuti. Maka kukenakan sepatu, kupluk, sarung tangan, dan jacket tumpuk tiga. Tak lupa senter kecil yang kupegang dengan jari-jari yang hampir tak bisa merasakan apa-apa. Keluarlah aku dari tenda. Di luar sudah banyak kawan-kawan berkumpul. Kami pun mengatur barisan dan tata tertib selama pendakian ke puncak. Mereka bilang pendakian ini sekitar 3 jam dengan jalur berpasir berbatu yang suka lepas. Jadi hati-hati melangkah adalah pesan utama yang diberikan.

Berjalanlah aku bersama rombongan, dengan mata yang setengah rabun karena gelap dan angin yang menderu-deru hebat bagai ingin menerbangkanku. Jalur menanjak sekitar 60-an derajat menyambut kami. Pelan kami bergerak. Sekali-sekali kami naik dibantu tali saking sulitnya kaki mendapat pijakan yang ajeg dan tidak berguguran. Kadang kami harus berhenti dan duduk di dalam parit jika angin kencang bertiup. Untung kami bersama dengan pendaki senior yang sangat paham seluk beluk dan sifat dari Gunung Kerinci ini.

Setelah agak lama juga berjalan, aku bertanya kepada temanku, masih jauh kah puncak Kerinci itu. Dia menunjukkan, nah itu yang di sebelah kiri namanya Puncak Geger, sementara puncak Kerinci itu yang di atas sebelah kanan itu, katanya. Wooww masih jauh juga ternyata. Tiba-tiba kakiku terasa lemas, dan dayaku seolah-olah terbang, aku jadi tak bertenaga. Dalam hati aku bilang, wah nampaknya aku nggak akan bisa sampai puncak. Tak terlalu jauh di atasku, kulihat banyak orang berhenti untuk berfoto-fot. Kutanya pada temanku, tempat apa itu. Dia bilag, itu Batu Gantung –karena posisi batu besar itu memang bergantung, alias di bawahnya tidak ada penyangganya. Serta merta aku bilang, ya sudah, puncakku di sana aja. Puncakku di Batu Gantung itu. Aku udah nggak sanggup lagi.

So ikutlah dua orang temanku berhenti di sana. Mereka nggak tega meninggalkan aku sendirian di sana sambil menunggu rombongan turun dari puncak. Di sana kami mengabadikan pemandangan yang tak ada duanya dalam hidupku. Awan-awan putih bergumpal bagai kasur empuk yang siap menampung badan siapa pun yang lelah. Ingin rasanya melompat ke atasnya! Lihat saja foto-fot di bawah ini!

photo 31

photo 30

photo 32

Singkat cerita, tercapailah hajatku mendaki Gunung Kerinci. Dan Alhamdulillah rombongan kami turun dengan selamat tanpa kurang suatu apa.

kerinci i’m in love, part-1

Confirmed, aku sekarang jadi junkie gunung!

Setelah terakhir naik gunung di tahun 2011, Gunung Gede, kembali aku ditawari naik gunung di akhir tahun 2013 lalu. Tawaran itu datang dari temanku yang berdiam di Jambi. Dalam salah satu obrolan kami ketika dia berkunjung ke Jakarta, ndilalah obrolan ngalor ngidul sampai ke topik cerita-cerita perjalanan. Dan dia langsung bilang,”Ayo mbak Yaya, kita naik Gunung Kerinci akhir tahun ini, sambil ngerayain tahun baru.” Wow, bagiku itu ide yang sangat brilian, dan juga satu hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Yah, memang hal-hal baru selalu menarik perhatianku. Jadilah saat itu kami deal, bahwa aku akan ke Jambi menjelang malam tahun baru dan bersama-sama dengan dia dan pasukannya naik ke puncak Kerinci.

Setelah dia pulang, iseng-iseng aku consult ke mbah Google. Masukkan keyword Gunung Kerinci. Dan apa yang kubaca kontan membuat deg-degan dan darah berdesir. Di layar komputer disebutkan bahwa Gunung Kerinci adalah gunung api tertinggi di Pulau Sumatera! Dan gunung api tertinggi di Indonesia. Bukan itu saja, Gunung Kerinci juga merupakan puncak tertinggi kedua di Indonesia (3.805 meter di atas permukaan laut) –setelah puncak Jaya Wijaya di Papua. Oh nooooo!! Me and my big mouth again!

Kekhawatiran bertambah setelah aku ngobrol-ngobrol lagi dengan temanku yang anak outdoor dan punya pengalaman naik gunung, si Sonya. Dia bilang, “Yakin lo mau naik Kerinci? Itu tracknya terkenal susah lho!” Hiks hiks.. sungguh mau nangis dan putusa harapan rasanya mendengar itu. Apalagi kan pengalaman naik gunungku yang beneran cuma Gunung Gede itu aja (yah, Bromo dan Gunung Ijen nggak termasuk ‘mendaki beneran’ kali yaa) itu pun di tahun 2011.

Tapi entah kenapa, tarikan untuk meniatkan perjalanan ke Gunung Kerinci ini cukup kuat di dalam hati sini. Antara takut dan berharap, antara khawatir dan kepingin, pokoknya campur aduk perasaan. Tapi aku bilang pada diri sendiri, ya udah, gak usah terlalu berharap, tapi tetap diupayakan sebisa mungkin. Dan hal pertama yang kupikirkan tentu aja soal fisik. Dan Alhamdulillah, sejak pertengahan tahun lalu aku sudah mulai bergiat jogging. So, rencana naik Kerinci ini menjadi motivasi tambahan selain keinginan untuk tetap sehat dan bugar.

Maka jadilah aku rajin lari, minimal 3 kali dalam seminggu, dua kilometer setiap kalinya. Plus berenang juga kulakukan di saat-saat terakhir menjelang keberangkatan. Nggak salah-salah, 400 meter in one shot. Pheeww! Kira-kira satu bulan sebelum tanggal keberangkatan, temanku sudah kirim woro-woro lagi, bahkan menyebarluaskan di media sosial, mengajak orang-orang lain untuk bergabung. Semua sudah dipersiapkan oleh dia dan pasukannya. Kami-kami yang diundang untuk naik gunung ini cuma harus bawa badan, perlengkapan pribadi dan kamera! Hahahaa.. Hasil konsultasiku dengan si Sonya, dia bilang yang terpenting adalah ransel yang aku bawa harus enak, sehingga nggak akan merepotkan. Maka belilah aku daypack baru. Sleeping bag tadinya mau beli juga, tapi temanku satu lagi, si Duy, punya satu yang sedang tidak ia gunakan. So kupinjamlah sleeping bag Duy yang Alhamdulillah ukurannya cukup kecil.

Maka, tanggal 28 Desember, berangkatlah aku ke Jambi. Ibu-bapak, kakak-adik, semua mengingatkan: hati-hati, musim hujan. Yah aku cuma bisa berdoa dalam hati semoga Tuhan Yang Maha Kuasa merestui perjalananku ini. Sesampainya di markas temanku di Jambi, kudapat kabar bahwa ternyata peserta naik gunung kali ini ada 30 orang. Hahahaa… oke lah, the merrier the happier, the better. Temanku bahkan mengajak anak dan istrinya juga. Malam itu, rombongan advance team berangkat lebih dulu. Perjalanan dari kota Jambi ke Kayu Aro, di mana Basecamp pendakian berada (disebut juga lokasi R10), memakan waktu sekitar 10 jam, jika lalu lintas normal dan tiada hambatan. Sementara itu, rombongan kami para tetua dan senior ini berangkat pada tanggal 29 Desember pagi hari.

Keesokan harinya tanggal 29 Desember, berangkatlah aku, seorang temanku dari Jakarta, si Mukri, dan empat orang dari Jambi lainnya (termasuk temanku, Nauli serta anak dan istrinya, dan Nik temanku yang lain). Perjalanan dari kota Jambi ke Kayu Aro lumayan lama dan lumayan agak membosankan. Untung istri Nauli (Kak Wita) ikut dalam perjalanan ini, sehingga kami penumpang lainnya “tidak berkewajiban” jadi co-driver yang harus melek terus menemani supir. Hehehhee…

Singkat kata, kami sampai di Basecamp R10 Kayu Aro sudah malam. Kayu Aro ternyata sebagian besar adalah hamparan kebun teh peninggalan jaman Belanda. Udara dingin menerpa saat kami keluar dari mobil dan masuk ke tenda yang sudah disiapkan oleh Tim Advance. Langsung aku berpikir, di Basecamp aja dinginnya udah kayak gini, gimana di atas ya… Untung aku bawa perlengkapan yang lumayan memadai — 3 buah jacket (jacket untuk udara dingin, light jacket wind breaker untuk pendakian, dan rain coat), 5 pasang kaos kaki, kupluk, scarf, dan juga sarung tangan. Untuk perjalanan seperti ini, aku selalu menjaga kakiku agar selalu kering dan hangat. Karena dari kaki inilah berawal segala cerita dropnya stamina dan kemungkinan terserang sakit dan sejenisnya. Untung sepatu pendakianku sepatu kulit yang tahan air, plus 2 pasang kaos kaki yang kupakai cukuplah kiranya melindungi kakiku ini.

Keesokan harinya, tanggal 30 Desember pagi, rombongan kamipun bersiap. Rombongan dari markas di Jambi, ketambahan rombongan sahabat-sahabatnya Nauli, para pendaki senior yang sudah puluhan kali naik Kerinci. Bertambahlah aku yakin dan merasa lebih aman lagi. Sekitar jam 10.00 rombongan kami berangkat dari Basecamp R10 ke Pintu Rimba yang berjarak sekitar 6 kilometer, melintasi kebun teh dan kebun sayur masyarakat. Untungnya, ada mobil yang mengantar kami ke Pintu Rimba. Jika tidak, 6 km melalui jalan aspal bisa jadi adalah perjalanan yang sangat membosankan dan buang waktu saja.

Memasuki Pintu Rimba, aku terus mengingatkan diri sendiri untuk menjaga ritme berjalanku, dan juga mengucapkan salam kepada para penghuni rimba dan gunung sebagai kulonuwun, serta berdoa kepada Tuhan sebanyak-banyaknya yang aku bisa. Gunung, hutan, laut, bukanlah tempat di mana kita bisa bermain-main. Tidak omong sembarangan, dan berbuat serampangan, serta tidak sombong dan jumawa, adalah rule of thumb yang wajib kita patuhi. Perjalanan kami pagi ini ditujukan untuk mencapai Shelter-1 di mana kami akan camping dan bermalam. Dari Pintu Rimba ke Shelter-1 terdapat 3 pos peristirahatan yang harus kami lalui.

Alhamdulillah hari itu cuaca cukup cerah. Bahkan ketika mulai memasuki hutan dan track pendakian, kudengar ramai sekali kicau burung-burung di atas kepala kami. Kubilang, Alhamdulillah alam berbahagia dan menyambut kita. Track menuju Shelter-1 merupakan track panjang dan terus mendaki. Jarang sekali kami mendapat bonus –istilah jika ada track datar atau sedikit menurun. Hutan cukup rapat dan diisi oleh pohon-pohon kayu besar. Indah sekali pemandangannya dan membuat aku berdecak kagum. Aku mengekor temanku Mukri yang cukup baik mengatur ritme perjalanan kami. Kami berjalan dalam kelompok-kelompok kecil terdiri atas 5-7 orang dan tidak memaksakan diri untuk cepat-cepat sampai.

Walaupun kami berjalan santai, tapi tetap track yang menanjak tiada henti ini menguras tenaga dan membuat kami capek. Maka tak heran sering sekali kami berhenti sejenak untuk mengejar nafas dan minum-ngemil seadanya. Satu nasihat dari Sonya, kalau minum dalam perjalanan itu secukupnys saja, sekedar membasahi kerongkongan dan tidak perlu sampai begah. Pun kalau makan, nggak perlu banyak-banyak dan sampai penuh perutnya. Selain itu, Kerinci ini ternyata tidak memiliki sungai. Air agak sulit didapat karena mata airnya hanya mengandalkan air hujan, sehingga kita musti berhemat air.

1557410_10202373013958736_2111446798_o

photo 2

Di sepanjang track ini banyak sekali kami bertemu rombongan pendaki lainnya yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia –ada dari Jawa, Sulawesi, dan lain-lain. Bahkan ada yang akhirnya bareng dengan kami berjalan.

Sekitar jam 16.00 sampailah kami di Shelter-1. Spontan ucapan Alhamdulillah keluar dari mulutku begitu mencapai Shelter-1. Lucunya, di Shelter-1 ini sinyal handphone masih ada. Aku bahkan dengan sukses bisa mengakses internet. Iseng aku browsing, berapa ketinggian Shelter-1 ini, dan kudapat angka 2516 mdpl (meter di atas permukaan laut). Subhanallah. Kulihat di balik semak ada awan sejajar dengan kita. Kembali aku merinding dan mengucap syukur tak henti-henti. Alhamdulillah sejak kami naik hingga malam kami menginap di Shelter-1 cuaca selalu cerah dan hujan hanya rintik-rintik kecil saja. Namun udara tetap saja dingin menusuk. Kukenakan jacket double dua saat meringkuk tak bergerak di dalam sleeping bag-ku yang hangat.

IMG_5981

 

IMG_5971

Malam itu aku tidur tak terlalu nyenyak, selain karena sempitnya tenda kami (berisi aku, kak Wita, anaknya si Wili dan Nauli), juga temanku si Nauli ini ternyata pengorok berat. Hahahaa.. Kaki pegal yang tak bisa diluruskan serta dinginnya udara membuatku terbangun berkali-kali malam itu. Anyway…

(bersambung ke part-2 )

gunung gede, part-3

Menjelang sore, sampailah rombongan kami ke Alun-alun Suryakencana — aku dan Mbak Sandra menjadi yang terakhir tiba. Alun-alun Suryakencana adalah sebuah lapangan datar yang luas yang berada di ketinggian 2.750 di atas permukaan laut (dpl). Penampakan fisik lapangan ini adalah padang rumput dan padang tanaman Edelweiss (Anaphalis javanica). Sayangnya pada saat kami kesana bunga-bunga Edelwiess belum bermekaran sehingga hanya terlihat rumpunan pohon Edelweiss bertebaran dimana-mana. Kata para senior pendaki, dulu rimbunan Edelweiss jauh lebih banyak. Pun, membelah alun-laun tersebut adalah aliran sungai yang saat ini sudah kering. Menurut cerita teman-teman seperjalananku, dulu mereka bahkan bisa mandi-mandi di sungai tersebut. Namun sekarang setitik pun tak ada air mengalir di ex-sungai tersebut. Menyedihkan.

Setelah sejenak beristirahat dan berfoto-foto, kami segera bergerak ke lokasi dimana tenda kami akan didirikan. So, malam ini kami akan bermalam di alun-alun ini! Yeeeiiiyyyy!!!!

Ketika kami mulai bergerak hujan pun mulai turun, tidak lebat, tapi cukup efektif untuk memanggil kabut. Kami berjalan cukup jauh di tengah kabut dan baru lah kusadari bahwa alun-alun ini besaaaaar adanya. Menurut infromasi yang kuperoleh dari hasil googling, luasnya kurang lebih 50 hektar.

Setelah berjalan beberapa saat, tibalah kami di pojokan tempat dimana tenda-tenda rombongan kami didirikan. Letaknya cukup terlindung, berada di balik pepohonan sehingga tidak akan terlalu terkena terpaan angin malam yang menggigilkan. Sayangnya malam itu hujan turun dengan derasnya. Sepanjang malam kami hanya berdiam di dalam tenda. Untuk bergerak ke tenda makan dan menyantap makan malam pun malas rasanya, karena dingin dan basah. Sementara di dalam tenda kami sudah bergelung di dalam slepping bag setelah berganti pakaian dengan yang tebal dan hangat.

Saking lelahnya rasanya aku ingin langsung tidur saja. Walaupun kondisinya tidak terlalu nyaman — dibandingkan dengan tempat tidurnu di rumah (ya iyaa laah, c’mon deh!). Pengalaman tidur beralasnkan tanah di dataran yang tidak rata benar-benar sesuatu buatku. Aku ingat terakhir kali camping dan tidur di tenda adalah ketika aku SD dan ikut camping pramuka dalam acara persami — perkemahan Sabtu-Minggu!

Sekitar jam 04.00 pagi aku terbangun oleh seruan,”Gorengan, gorengan… Nasi uduk, nasi uduk..” Sejenak aku mencoba menyadarkan diri — apakah aku bermimpi? Apakah aku benar-benar berada di gunung? di ketinggian 2.750 meter dpl..? Karena di luar masih terlalu gelap, aku lanjutkan tidur ayamku sejenak dan mengurungkan niatku untuk mencari tahu ke luar. Ngeri juga, jangan-jangan itu demit atau makhluk jadi-jadian.

Ketika di luar sudah agak terang dan sudah kudengar suara-suara temanku dari tenda sebelah, aku pun keluar dari tenda untuk menghirup udara segar. Kukenakan sandal jepitku dan kulihat sudah ada Kak Lily dan Kak Ida. Kak Ida memegang bungkusan di tangannya: gorengan! Ho..ho..ho..jadi benar yang kudengar subuh tadi adalah memang mamang-mamang penjual gorengan dari desa-desa di kaki gunung ini. Mereka tidak hanya menjual gorengan dan nasi uduk, tapi juga kopi, minuman kesegaran, dan lain-lain. Hahhaahaa, dahsyat!

Sambil menunggu sarapan disiapkan, kami pun berjalan-jalan di seputar alun-alun Surya Kencana. Menikmati pemandangan Gunung Gede yang akan kami daki menuju puncaknya pagi ini, mengambil air di mata air yang sangat kecil alirannya — dan kotor lingkungan sekitarnya. Susngguh sayang sekali! Masih banyak di antara pengunjung gunung ini yang bukan benar-benar pecinta alam. Sampah berserakan. Belum lagi buangan biologis manusia bertebaran di sela-sela pohon. Euughh..!

Walaup demikian, kami tetap happy dan ceria. Lihatlah di bawah ini. Apalagi untuk beberapa saat Puncak G. Gede bersih tak tertutup awan. Jadilah kami berfot-foto dengan senangya.

Setelah sarapan, kami pun packing kembali. Bersiap-siap menuju puncak!

Pendakian ini pun dimulai. Dan ini benar-benar terjal. Namun pemandangan sepanjang pendakian pun tak kalah amazing-nya! It is all just worth it. Sepanjang pendakian ini Bang Martua berperan sebagai dosen yang menjelaskan jenis-jenis tanaman dan ekosistem hutan. Tak lupa ia menceritakan pengalamannya ketika masih bermukim di dalam hutan di Kalimantan Timur sana.

Setalah kira-kira 2 jam mendaki, sampailah kami di puncak Gunung Gede. Hoorrreeeee…! Akhirnyaaaa!! Campur aduk rasanya hatiku: senang, bangga (bangga pada diri sendiri, bisa juga lo.. gitu kata hatiku), dan juga terharu (biasa, gue kan suka mello orangnya). Di puncak, kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk mbak Sandra (unique way to celebrate birthday!). Dan tak lupa foto memoto juga dilakukan. Foto grup, foto sendiri-sendiri, foto gaya, dan lain-lain.

Puas sekali rasanya! Mendaki gunung adalah satu kegiatan yang menurutku harus dilakukan setiap orang, at least once in their life time. Banyak sekali manfaatnya, bukan hanya menggerakkan kembali otot-otot tubuh kita, tapi yang paling kurasakan bermanfaat adalah kalibrasi pikiran, perasaan dan emosi kita. Menyatu dengan alam membuat pikiran kita lebih jernih, dan ada kepasrahan yang luar biasa pada kuasa Tuhan Yang Maha Segala.

gunung gede, part-1

20111228-154914.jpg

Baiklah, sekarang aku akan memenuhi janji menceritakan pengalamanku mendaki Gunung Gede. Sudah lama sebenarnya keinginan menuliskan pengalaman ini tetapi selau tertunda akibat campuran kesibukan, kemalasan dan kelupaan. So, here we go…

Semuanya berawal dari ajakan seorang temanku, Mbak Sandra, yang tiba-tiba mengirimkan message di inbox Facebook mengajak aku dan dua orang teman lainnya untuk mendaki Gunung Gede. Dua orang temanku menolak karena mereka sudah ada kegiatan lain pada hari yang sama, sementara aku langsung menyambut baik ajakan itu. Beberapa alasan yang mendasari sambutan baikku itu, pertama, pikiranku lagi suntuk banget, so suatu pengalih perhatian menjadi sesuatu yang exiting buatku. Kedua, aku memang sudah lama ingin mencoba mendaki gunung yang sesungguhnya, bukan hanya sekedari piknik dan jalan-jalan, tapi benar-benar mendaki dan camping di atas gunung sana. Ketiga, waktuku sedang lowong. Sudah sering aku merencanakan perjalanan bersama teman-temanku namun selalu tidak kejadian akibat berbagai halangan waktu. Seperti orang banyak bilang, sesuatu yang tidak direncanakan malah sering kejadian dibandingkan dengan sesuatu yang telah direncanakan dengan matang. Segeralah aku mendaftar pada teman Mbak Sandra yang menjadi organizer dari pendakian ini, Joan. Itu satu minggu sebelum keberangkatan yang direncanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Oktober 2011.

Eh, ndilalah ndilalah, tiba-tiba muncul urusan pekerjaan yang tidak memungkinkan aku untuk pergi pada tanggal tersebut. Dengan berat hati aku batalkan keikutsertaanku, sambil merutuk dalam hati ‘gagal maning, gagal maning!!’. Tapi orang bilang kalau tidak jodoh kemana-mana, tapi kalau jodoh nggak kemana-mana, beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Mbak Sandra dan temannya, Mbak Ida di suatu acara. Dan yang terjadi terjadilah. Mbak Sandra dengan sepenuh hati membujukku untuk mendaftar kembali dan bilang, “…kalau kerjaan aja sih akan selalu ada yaa…”. Hmmmm…she has the point. So dengan sedikit keahlian dalam pendelegasian (hehehhee…) dan pengelolaan waktu, jadilah kuputuskan untuk kembali mendaftar. Yeaaayyyy!!!

But, thhe devil is always in the detail. Bilang ikut mendaki adalah satu hal, tapi mempersiapkannya adalah hal lain. Mulailah aku berpikir, peralatan mendaki apa yang aku punya? Carrier? ada, tapi entah dimana keberadaannya. Sepatu mendaki? Nope. Sleeping bag? errrr…gak punya. Matras? ooh perlu ya? (nanya balik). Satu-satunya barang outdoor yang aku punya ya jaket dan celana panjang cepat-kering. Mulailah aku mengontak kawanku si Mai yang berhobby mendaki untuk meminjam sepatu gunungnya. Oke, dia bilang “Ambil aja di kantor gue hari Jumat ya!”

So the plan was, hari Jumat malam, rombongan akan berangkat ke Cibodas dari terminal bus Kampung Rambutan. Bermalam di satu warung di Cibodas dan hari Sabtu pagi sekali berangkat ke jalur pendakian. Alright. Jumat sore bergegas aku kantor temanku untuk mengambil sepatu gunung. Tak disangka tak diduga, si sepatu tidak ada disana. Aku telpon temanku, dan dia bilang lupa. Oh nooo! Singkat kata, aku putuskan untuk segera pergi ke toko outdoor dan membeli sepatu gunung baru! Tapi itu berarti aku akan sangat terlambat sampai di terminal bus. Akhirnya kuhubungi Joan dan bilang bahwa aku akan menyusul ke Cibodas besok sebelum subuh diantar oleh adikku. By the way, pada saat aku menelpon Joan aku belum tahu apakah adikku akan pulang ke rumah malam ini. Well, kubilang dalam hati ‘que sera sera’. Setelahnya, segera kutelpon adikku dan memaksanya untuk mengantarkan aku ke Cibodas besok pagi-pagi. Dan dia mengiyakan! Alhamdulillaah.

going places: kawah ijen

Berlokasi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Gunung Ijen adalah satu gunung berapi aktif yang ada di pulau Jawa. Dengan ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut, gunung ini tidak terlalu sulit untuk didaki sampai ke kawahnya karena ada jalur yang cukup lebar yang memungkinkan pengunjung untuk naik dan turun kembali dalam waktu kurang dari satu hari perjalanan. Jangan lupa membawa penutup hidung karena bau gas belerang di kawahnya cukup keras dan menusuk.

Kawah Gunung Ijen menurutku, jauh lebih bagus daripada kawah Gunung Bromo, dan juga lebih luas. Disana puluhan pekerja setiap harinya menambang batuan belerang yang dibawa turun dengan pikulan ke kaki gunung untuk dijual. Satu pekerjaan berat (harfiah, karena mereka harus memikul batuan belerang seberat puluhan kilo menuruni gunung) dengan bayaran yang tidak besar.

Di kaki Gunung Ijen tersedia akomodasi yang cukup basic yang memungkinkan pengunjung untuk menginap. Sayangnya tidak ada kendaraan umum yang reguler mengantarkan pengunjung dari dan ke lokasi.