sunda kelapa from my eyes

I had been wanting to go to the traditional harbour of Sunda Kelapa, but plans made always failed. So when a friend who took me for a photowalk changed his mind about where he wanted to go, and got us to Sunda Kelapa instead, there was no reason for me to say no.

So there we went. The harbour in that late afternoon was pretty busy, with people loading and unloading things to and from the schooners. Yes, at this harbour it is the traditional wooden schooners dominated the scene. For centuries, Indonesian sailors and explorers had been known for their journeys around the globe.

The Bugis –from where my ancestors came, especially famous for this. They sailed using Phinisi Schooner. Not only they sailed all over the world, they also had been known for attaining lands in their destination, mostly by giving their services to the native lords in return for some piece of land, or by marrying the locals. That’s how the history tells. It’s not so surprising that in almost every region in Indonesia, or even in Southeast Asia, you can find any Kampung Bugis, or Bugis Village.

Back to Sunda Kelapa. After strolling along the long pier, we took a small boat and went down to waters around the harbour. The timing was perfect, as the sun was setting, it gave a good lighting.

So here below are some of my shots, using Hipstamatic app from my iPhone, set for random combo.

IMG_6737-1.JPG

IMG_6739.JPG

IMG_6730-0.JPG

IMG_6731-0.JPG

IMG_6721.JPG

IMG_6725.JPG

IMG_6703.JPG

IMG_6706.JPG

IMG_6681.JPG

IMG_6684-0.JPG

IMG_6678.JPG

IMG_6700.JPG

IMG_6685.JPG

IMG_6699.JPG

the journey of breaking the heart

IMG_4051.JPG

You know, i call travelling –especially to a new exotic place, a journey of breaking the heart. It is because everytime i go places i’d fall in love with them! And by the time i try to get to know the place deeper, it is also the time i must go.

So for me it is like a vicious cycle of breaking my heart purposedly –you come to a place, you fall in love, you go away, you break your heart!

And the worse is, you’d get a post-travel blues, and it’d be hard for you to move on, unless.. yes, unless you go to other place, to a new place. And then you go there, fall in love again (forget the previous one.. haha), and get your heart broken again, and the cycle continues.

Once you really realize that the world is not as small as a moringa leave, travelling becomes an urgency. You get yourself addicted. And it can only be eased by doing another travelling.

When asked whether I am a beach-type or a mountain-type, I can’t really answer. I thought I was a beach type. But once I got to know hiking in 2011, I have become addicted to it. I am like a kind of crazy newbie in this thing — like a friend said.

Well, definitely I will not stop. Like I always said to myself and to anybody else I know, do everything that the world has to offer, if you are able, at least once in your life time.

May the universe bless my wish. Aamiin.

rinjani day 4-5: segara anak & senaru

Hari keempat perjalananku mengunjungi Anjani. Ketika bangun matahari sudah tinggi. Nyenyak sekali aku tidur semalam. Itulah tidur ternyenyakku selama berjalan-jalan di sini, karena hari sebelumnya memang hari super lelah buatku –bisa dikatakan aku berjalan secara total kurang lebih 15 jam, mendaki, merangkak, berseluncur, menuruni tebing, dan sempat pula manjat-manjat karena ada jalur yang putus.

Ketika keluar tenda, sebagian besar anggota grup sudah pergi memancing. Sebagian lagi siap-siap mandi di spa alami Aik Kalaq. Aik Kalaq adalah sumber mata air panas yang mengalir dari tubuh Anjani dan membentuk aliran sungai. Karena letaknya bertingkat-tingkat, kita bisa mendapatkan suhu air berjenjang pula. Yang terpanas –terletak di lokasi yang tertinggi, dijuluki level-1. Aku sendiri hanya berani menjajal level-3.

Untuk menuju ke sana dari camp di pinggir danau, kita perlu menuruni bukit. Yah seperti kukatakan, menikmati Rinjani tidak seperti berjalan-jalan di taman kota. Kita selalu perlu usaha. Semula, Wiwin sang ketua rombongan, menawarkan kami untuk mandi air panas di Gua Susu. Namun dia bilang lokasinya cukup jauh dan harus berjalan beberapa kilometer. Langsung aku tolak usulan itu dengan cepatnya. Hahhaa.. Next time, kalau aku datang ke sini lagi, aku akan eksplorasi lebih lanjut sekitar danau, karena ternyata masih banyak tempat-tempat menarik yang layak dikunjungi.

IMG_3997.JPG

So pergilah kami ke Aik Kalaq. Untuk menikmati Aik Kalaq ini kita perlu melakukan proses aklimatisasi tubuh. Pertama-tama masukkan kaki, lalu perlahan-lahan seluruh tubuh kita rendam di mata air mengalir yang membentuk kolam-kolam alami. Enak rasanya berendam air panas ini. Pegal-pegal serasa diberi pijatan alami. Apalagi di beberapa tempat, mata air keluar dari dasar kolam membentuk gelembung-gelembung udara yang bisa memijat-mijat kaki kita. Selain itu, batu-batuan di kolam-kolam ini pun mengandung lapisan belerang kekuningan. Kita pun bisa lakukan lulur sulfur alami kalau mau. Banyak penduduk lokal dari berbagai wilayah di Lombok khusus datang ke mari untuk berobat, maupun memohon sesuatu. Kata temanku, niat untuk berobat atau memohon sesuatu tersebut harus sudah diucapkan sejak berangkat dari rumah.

IMG_3995.JPG

IMG_3996-0.JPG

Setelah puas berendam, hari sudah siang. Kami kembali ke tenda dan disambut dengan hidangan brunch. Yumm.. Hari itu kami, aku khususnya, bermalas-malasan saja. Ya kami memang tinggal dua malam di sana. Pendaki lainnya sudah beres-beres dan pulang sejak pagi. So, suasana malam tadi yang bagai pasar, siang ini menjadi cukup lengang. Baru aku sadar bahwa semalam itu malam minggu. Tak heran banyak pendaki yang datang. Hari ini tak terlalu banyak pendaki yang turun dari Pelawangan Sembalun, sehingga suasana di tepi danau relatif lebih tenang.

Sekitar sore hari, kawan-kawan yang memancing sudah kembali. Jauh-jauh juga mereka pergi mancing. Maka malam itu menu makan malam kami adalah ikan, ikan, dan ikan –dibikin sup, digoreng dan dibakar.

Keesokan harinya, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Sedih juga rasanya meninggalkan tempat yang bagai surga ini.

IMG_3998.JPG

IMG_3999.JPG

Kami akan pulang lewat jalur Senaru. Syukurlaah.. walaupun beberapa teman bilang bahwa tanjakannya lebih gila, kubilang biarlah, yang penting aku nggak perlu merasakan jalur Turunan Penyiksaan kembali.

IMG_4002.JPG

IMG_4003.JPG

Oh iya, aku lupa bilang bahwa naik ataupun turun Rinjani, tetap aja kita harus mendaki. Hahhahaa.. Yup, dari Danau Segara Anak kita harus mendaki bukit hingga sampai di puncaknya, yang disebut Pelawangan Senaru. Danau Segara Anak ini memang danau kawah, sehingga menuju dan keluar dari danau ini kita harus melalui bukit-bukit.

IMG_4004-0.JPG

IMG_4005-0.JPG

Dan ternyata, temanku memang benar adanya. Walaupun bukit Senaru ini lebih rendah dari bukit Sembalun, tapi jalurnya lebih terjal, dan melipirnya tipiiiiss sekali. Di pertengahan jalur, kami sempat berhenti di lokasi yang disebut Batu Ceper. Foto-foto sejenak di sana, dan setelah berjalan kembali barulah aku diberi tahu bahwa Batu Ceper itu adalah lokasi pemakaman orang-orang yang meninggal di Rinjani. Hmmm.. oke deh…

IMG_4035.JPG

IMG_4033.JPG

Setelah 3 jam mendaki dan memanjat, sekitar jam 12:00 siang kami sampai di Pelawangan Senaru. Yeeiiyyy!!! Pemandangan dari sini pernah diabadikan di salah satu mata uang kertas lama Indonesia. Selama proses pendakian pulang ini, aku dikawal oleh Wawan dan Opik. Mereka berdua baik sekali membantu aku melewati jalur-jalur sulit yang memerlukan panjat memanjat.

IMG_4037.JPG

IMG_4038.JPG

IMG_4034.JPG

Turun dari Pelawangan Senaru adalah jalur yang benar-benar menguji mentalku. Yah mungkin karena kondisiku yang sudah lelah, kaki yang mulai sakit, panas yang sangat terik dan jalur turun licin berdebu yang tak ada habisnya ini benar-benar membuat pertahananku jebol. Aku menangis (untung nggak ada yang lihat). Kakiku semakin sakit karena saat menurun, harus menahan agar nggak meluncur tanpa kendali. Ujung-ujung jariku sampai mentok ke bagian depan sepatu. Berkali-kali. Nyeri sekali rasanya. Dan nggak terkatakan lagi rasanya lutut dan betis. Untung ada Wawan yang memegang tanganku dan berjalan di depan untuk menahanku juga. Belum lagi persediaan air yang menipis, dan sumber air baru akan ada di dalam hutan Senaru –setelah turunan penderitaan ini.

Saat akhirnya jalur savana ini berakhir dan kami tiba di batas hutan Senaru, kuputuskan melepas sepatu dan mulai berjalan dengan telanjang kaki, alias nyeker. Aku sudah tak tahan lagi. Lagian, di hutan itu jalurnya adalah tanah humus dan bukan batubpasir seperti jalur sebelumnya. Bagiku, jalur tanah lembab itu lebih mudah kujalani.

Memasuki hutan, aku merasa lebih tenang. Udara lebih sejuk, nggak terpapar matahari langsung, dan banyak batang-batang pohon sebagai pegangan. Saat istirahat di Pos-2, kawan-kawan mulai mengambil air dan memenuhi botol-botol minum kami. Aku juga ganti memakai sandal jepit. Karena khawatir kemalaman di dalam hutan, grup kami pun makan siang seadanya dengan nasi goreng sisa sarapan yang memang sengaja dibuat lebih banyak. Nggak ada acara masak-memasak seperti biasanya. Makan siang terlambat dan super kilat ini tak menggugah selera makanku. Aku cuma mau minum, dan minum, dan minum.

IMG_4039.JPG

Untuk mengantisipasi gelap, kami pun mengeluarkan head lamp dan senter masing-masing. Aku masih berjalan dengan Wawan, yang juga memgalami sakit lutut setelah menahanku beberapa lama di jalur turunan di atas tadi. Hiks, poor him.

Singkat kata, menjelang maghrib sampailah kami di gerbang Pintu Rimba Senaru, setelah melewati 3 pos dan 1 pos ekstra. Yeiiiyyy!!! Senangnya hatikuuuu.. Aku merasa seperti orang yang baru lulus ujian. Dan gerbang ini seperti upacara wisudaku.

IMG_4040.JPG

Memang, mendaki Rinjani ini memberi pengalaman yang sangat lengkap. Fisik, mental, dan pegalnya pun merata mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki –mendaki, memanjat, merangkak, memanjat, meluncur, bergelantungan. Pemandangannya pun lengkap: tanjakan, turunan, puncak gunung, lembah, danau, savana, hingga hutan hujan tropis dataran tinggi, sedang, hingga rendah. Di bawah ini adalah aku dan Wawan, teman seperjalanan yang dengan baik hati menjagaku dalam perjalanan pulang.

IMG_4041.JPG

Akhirnya, hanya ucapan Alhamdulillah sajalah yang bisa kuucapkan sebanyak-banyaknya. Semoga aku diberi kesempatan lagi mengunjungi Anjani. Aamiin.

rinjani day 3: menuju segara anak

Meninggalkan puncak Anjani, matahari sudah tinggi dan hari sudah terang, walaupun hari masih pagi. Saat itu sekitar jam 09:00 waktu setempat. Walaupun ketika aku naik kulihat orang begitu mudahnya berseluncur turun dari puncak, aku tak begitu saja kemudian mengikuti cara mereka. Ketakutanku hanya satu, bagaimana kalau aku meluncur kebablasan terus sampai ke jurang? Hii..ngeri membayangkannya. Maka, kugunakan tongkat batang pohonku untuk menahan laju seluncuranku. Yah, mau nggak mau memang kita harus menapak sambil berseluncur. Jadi mirip-mirip berseluncur di salju, tapi di sini debu akan mengebul jika kita berseluncur terlalu kencang. Sambil berjalan, aku menikmati pemandangan yang tersaji di depanku. Lagi-lagi aku bergidik. Megah sekali Anjani ini. Dan betapa ngerinya penampakan “Trek E” yang kulalui sejak sepertiga akhir malam itu.

IMG_4016-1.JPG

Dan bulan Agustus ini, kuncup-kuncup Edelweiss mulai bermunculan –mungil, cantik, nampak tak berdosa. Namun betapa tangguhnya, tumbuh di antara bebatuan dan di ketinggian yang membekukan.

IMG_4011-0.JPGIMG_4012-0.JPG

Singkat kata, sesampainya aku di camp kami di Pelawangan Sembalun hari sudah jam 12:00. Lama juga perjalananku meluncur dari atas. Oh ya, perlu juga kusampaikan bahwa sebaiknya kita tidak sendirian saja turun dari atas. Walaupun jalurnya terlihat straight forward, tak urung aku sempat tersasar dan keluar dari jalur. Saat itu aku turun sendirian, dan memang kuakui, saat itu pikiranku sempat ke mana-mana. Padahal aku hanya berpikir, betapa indahnya, betapa damainya, betapa tak ada pikirannya, betapa kecilnya aku ini. Dan “untungnya” aku diselamatkan oleh adanya tanda-tanda kehidupan manusia, semacam tissue bekas, feses manusia, dan botol minuman bekas yang berserakan sehingga aku bisa mengira-ngira ke arah jalur yang sebenarnya. Ironis ya, sampah yang dibuang sembarangan lah yang membawaku pulang. Hiks…

Setibanya di camp, ternyata Ahmad dan Hamzan, dua kawanku itu belum tiba. Ya aku memang meninggalkan mereka di atas karena mereka sibuk membantu orang-orang yang kepayahan mau naik ke puncak. Baik hati memang mereka. Tak kuasa lagi, aku langsung rebahan saking capeknya, juga minum air sampai puas, karena praktis dari atas aku tidak minum sama sekali. Tapi istirahatku kali ini tak lama. Sekitar jam 15:00 kami sudah harus bergerak untuk menuju Danau Segara Anak. Kawan-kawan bilang jalurnya menurun. Yeiiyyy!! Begitu memang responku saat itu. Dan setelah mengalami jalur menurun itu, nyesel rasanya sudah bergirang hati.

Yah, yang namanya jalur menurun dari Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak itu bukanlah perjalanan menuruni punggung gunung. Perjalanan ini adalah perjalanan menuruni tebing nyaris 90 derajat dengan jalur memutar dan jalur berbatu-batu yang terjal. Huhuhuhuuuu… Sungguh mau nangis rasanya!!! Dan jalur ini benar-benar konsisten turunnya, hampir nggak ada jalur bonus yang rata. Jika pendakian menuju Pelawangan Sembalun dikenal dengan Tanjakan Penyesalan, maka perjalanan turun dari Pelawangan Sembalun ini kusebut Turunan Penyiksaan. Seperti halnya tanjakan yang tak ada habisnya, turunan ini pun tak ada habisnya. Beberapa kali kami bertemu masyarakat lokal yang baru pulang memancing dari danau. Mereka selalu “menghibur” dan bilang, danaunya ada di balik jembatan, nggak jauh lagi. Oke, tapi where the hell is the jembatan???? Helloooooo???

Sesungguhnya perjalanan menurun ini pun pemandangannya cukup oke, tapi sungguh aku sudah nggak berselera lagi mengabadikannya di kamera. Betisku tegang dan lututku kaku dan terasa sakit jika ditekuk, akibat menahan beban berat badan yang lebih berat jika menurun. Sebenarnya akan lebih enak jika kita tidak menahan badan, dan menggunakan momentum berat itu untuk turun dengan setengah berlari. Namun, jalur yang sempit berliku dan sudut yang curam membuat ngeri, khawatir kebablasan malah nyungsep masuk ke jurang di depan.

Dan ketika akhirnya berjumpa dengan jembatan yang disebutkan penduduk lokal tadi, betapa senang hatiku. Yeiiyy… Dan jalur pun sudah tidak terlalu terjal lagi. Saat itu hari sudah mulai gelap. Tapi aku optimis kami akan sampai sebelum malam, karena kan danaunya ada di balik jembatan. Namun apa mau dikata, ternyata itu hanya harapan hampa. Danau Segara Anak ini tak jua menunjukkan mukanya. Di mana dikau, wahai Danau? Dan ternyata lagi, setelah berjalan dengan suntuk karena seolah tak sampai-sampai, di depan terlihat ada jembatan lagi. Omaygaaaaaatt… jadi ada berapa jembataaaaan??? Jangan-jangan jembatannya ada banyak dan jarak yang satu dengan yang lainnya sebegitu jauhnya pula. Oh no!!!

IMG_4014-3.JPG

IMG_4013-4.JPG

Dan ketika wajah danau akhirnya terlihat, aku menghela nafas panjang. Akhirnya nampak juga, walaupun aku tak tahu masih berapa jauh aku akan sampai ke danau itu. Dan menjelang senja itu, suasana sekitar lumayan indah, dan semangatku muncul lagi untuk segera sampai ke sana. Setelah ambil beberapa foto, kupaksa kaki ini berjalan cepat. Walau di setiap langkahnya yang kurasakan hanya nyeri dan ngilu saja. Hiks what the hell!!

IMG_4015.JPG

Setibanya di danau sudah malam, dan Astaghfirullaah… ternyata suasananya sungguh crowded dan macam pasar. Tenda-tenda bersesakan di mana-mana, dan orang-orang sedang sibuk memasak untuk makan malam. Tim Advance dari grupku sudah tiba sedari tadi, dan ketika aku sampai, tenda-tenda kami sudah didirikan. Aku langsung terkapar di tenda, tak dapat menahan kelelahan. Setelah berganti kaos yang sudah basah kuyup oleh keringat, aku langsung tertidur. Aku terbangun ketika Farhan, seorang anggota grupku membangunkanku untuk makan malam. Setelah makan malam, aku tak kuasa untuk ngobrol-ngobrol dengan kawan-kawan seperti malam-malam sebelumnya. Langsung aku tertidur dengan pulas, sampai pagi.

nyarai

Di akhir minggu yang lalu aku punya kesempatan untuk mengunjungi satu tempat yang sangat amazing –bukan hanya karena keindahan tempatnya, tapi juga karena effort yang diperlukan untuk mencapai tempat tersebut lumayan berat juga.

Ceritanya, setelah tiga hari melaksanakan tugas di Padang, aku sengaja extend 3 hari untuk mengunjungi beberapa tempat di Sumatera Barat. Awalnya tujuanku adalah melakukan train-adventuring, alias bertamasya keliling Sumbar dengan kereta api. Sudah jadi cita-citaku sejak lama untuk naik kereta di Sumbar yang jalurnya melipir perbukitan –jalur yang selalu aku lihat dari pinggir jalan jika aku melakukan perjalanan Padang-Bukit Tinggi. Namun setelah mencari beberapa informasi, baik secara online maupun bertanya kepada kawan-kawan di Padang, kudapati bahwa sekarang ini sudah tidak ada lagi perjalanan antar-kota di Sumatera Barat dengan menggunakan kereta api. Kalaupun ada beberapa route hanyalah untuk kereta wisata. Misalnya jalur Sawah Lunto ke Padang Panjang, itu pun hanya ada di hari Minggu saja. Ada jalur kereta yang beroperasi setiap hari dari Kota Padang ke Pariaman. Namun menurut kawanku, jlaur itu jalur biasa saja –mendatar dan tidak ada pemandangan yang menarik.

So gagal lah keinginanku untuk naik kereta api di Sumatera. Secara iseng-iseng, karena tadinya aku berniat ke Pariaman naik kereta api, ku-googling “ada apa di Pariaman”, dan satu gambar yang langsung membuatku tertarik adalah gambar air terjun dengan latar depan air berwarna kehijauan. Waww.. aku buka lamannya, dan terpampanglah di sana Nyarai. Dari informasi yang kudapat, Nyarai ini terletak di Kecamatan Lubuk Aluang, Kabupaten Pariaman. Untuk menunju air terjun Nyarai, kita harus berjalan kaki atau trekking selama 3 jam. Hmmmm… Sounds very interestring, terutama setelah berkali-kali rencanaku untuk mendaki Gunung Papandayan –dalam rangka latihan menuju Gunung Rinjani dan Semeru (Aamiin..), selalu gagal akibat satu dan lain hal.

Maka, bertanyalah aku pada kawanku, bagaimana caranya aku menuju Nyarai. Kebetulan, kawanku yang sudah cukup senior, Bang R, mengenal baik komunitas yang mengelola kawasan Nyarai ini –yang sekarang sudah menjadi daerah wisata dengan komunitas setempat sebagai pengelolanya. Maka, mereka mulai mengatur-atur perjalananku. Yah inilah enaknya kalau punya banyak teman di berbagai daerah. Mereka bilang, “Tenang aja, mbak, kami atur semua.” Alhamdulillaah. So, rencana yang mereka susun adalah, besok pagi-pagi kami berempat akan pergi ke Pariaman naik sepeda motor. Dari sana kami harus bertemu dengan kawannya Bang R yang akan membawa kami ke kawasan Nyarai. Oke, quite a simple plan.

Singkat cerita, keesokan harinya –Jumat, pergilah kami ke Pariaman dan sampai di kawasan Nyarai. Dari Kota Padang ke jalan masuk ke Kecamatan Lubuk Alung memakan waktu satu jam jika naik sepeda motor. Lalu dari sana kami harus berkendaraan selama murang lebih 15 menit untuk sampai di Posko Wisata Nyarai. Tapiii, ndilalah, ternyata hari Jumat adalah hari Libur bagi pengelola. So nggak ada seorangpun pemandu yang stand-by di Posko tersebut. Dan sesuai aturan, mereka tidak mau melanggar dengan mengijinkan kami untuk pergi.

20140430-212320.jpg

20140430-212257.jpg

Tapi kata orang, kalau memang sudah jodoh nggak akan ke mana-mana. Ternyata hari itu komunitas pengelola berniat melakukan syukuran memperingati setahun dibukanya kawasan ini dan bekerjanya mereka secara bersama-sama mengelola kawasan ini. Bapak penjaga Posko bilang, nanti lepas sholat Jumat kami boleh naik bersama dengan masyarakat yang lain, yang akan melakukan upacara potong kambing di atas air terjun. Rencananya daging kambing tersebut akan dimasak dan menjadi hidangan utama untuk acara syukuran. Kami menyambut baik usulan ini dan menunggu hingga hari siang.

Sekitar pukul 2 siang, berangkatlah rombongan kami berempat ini. Kami ditemani oleh seoarang pemandu yang dipanggil oleh kawan-kawan mereka sebagai “Juru Kunci”. Abang Juru Kunci ini masih muda usianya, berbadan tegap dan gempal. Saat mulai berjalan dia bertanya, “Ini kalian anak mama-papa atau bukan?” Woohhoo tentu aja kami menolak dibilang anak mama-papa. Kami bilang, kami ini pecinta lingkungan loh dan sudah biasa bermain di alam. Duerr our big mouths get the price. Abang Kuncen bilang, okelah kalau begitu, untuk menghemat waktu, karena kita berangkat sudah siang, maka kita akan berjalan cepat. Kan kalian anak alam. Nggak usah foto-foto di perjalanan, ya! Begitu kira-kira kata Abang Kuncen, sambil ngelirik aku yang berseragam serba Fuchsia (baca: Pink ngejreng hihi…) mulai daypack, sepatu, hingga jaket. Hahahhaaa…

20140430-212351.jpg

Sebagai gambaran, jalur trekking dari Posko ke air terjun Nyarai berjarak 3,5 km. Biasanya, jarak sedemikian ditempuh dalam waktu 3 jam oleh para pengunjung. Tapi karena Kuncen bilang kita akan berjalan cepat, maka berjalan cepat lah kita. Dan sungguh, jalur trekking ini bukanlah jalur yang mudah. Pertama, jalurnya naik-turun. Kalaupun ada jalur bonus yang mendatar, biasanya itu adalah di sepanjang kebun warga yang medannya terbuka. Jadi cuaca panas dan terik di siang itu cukup menghabiskan energi kami. Di setiap kilometer dari jalur trekking tersebut terdapat pokso-posko di mana pengunjung bisa beristirahat sejenak. Dan sejenak bagi kami, adalah tak lebih dari 5 menit. Tapi jangan tanya pemandangannya! Sepanjang jalur yang menyusuri pinggir sungai, kami bisa melihat aliran sungai yang bening, penuh dengan batu-batuan besar yang sangat indah. Ingin rasanya berhenti sejenak untuk memotret, tapi Kuncen nggak mengijinkan. Buang waktu, katanya. Well, berhubung kami adalah pengunjung yang tak diharapkan, yang datang di hari off, dan bisa ikut karena kemurahan hati mereka, maka pasrah lah aku mengikuti perkataan Bang Kuncen.

Setelah sampai di posko terakhir yang harus dicapai dengan menyeberangi sungai, dan berjalan sekitar 500 meter dari sana, sampailah kami di lokasi. Dan sungguh, apa yang aku lihat membuat mulitku ternganga dan mataku terbelalak. Woowwww…

Hilang sudah kelelahan dan rasa capek, bertukar dengan ucapan “Subhanallah” dan “Alhamdulillaah”. Setelah melihat jam, ternyata jarak 3,5 km dari Posko ke air terjun Nyarai ini kami tempuh dalam waktu 1,5 jam (saja). Pheewww… Alhamdulillah kebiasaanku jogging cukup membantu mempertahankan stamina dan fisikku hingga nggak tumbang.

20140430-212632.jpg

20140430-212656.jpg

20140430-212600.jpg

Maka, berfoto-fotolah kami di sana, sepuas-puasnya. Tak berapa lama, rombongan yang lain datang dan bergabung dengan rombongan yang telah datang sebelum kami. Mereka pun bergerak naik ke bagian atas dari air terjun. Di aliran air yang berasal dari hutan tersebut, mereka melakukan pemotongan anak kambing dan membiarkan darahnya mengalir turun ke air terjun Nyarai. Tentu saja diserta dengan doa demi kelancaran dan keselamatan bagi semua pengunjung yang akan mereka dampingi. Tak lama setelah mereka selesai menguliti si anak kambing, hujan pun turun. Cukup deras dan agak lama. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore. Bisa dipastikan bahwa kami akan terlambat turun.

20140430-212439.jpg

20140430-212936.jpg

20140430-212925.jpg

20140430-212722.jpg

Setelah hujan reda, rombongan kami pun bergerak turun. Aku agak khawatir karena pasti aliran sungai cukup deras sehabis hujan, padahal kami harus menyeberang sungai kembali. Namun dalam hati aku percaya bahwa para pemandu ini sudah sangat paham daerah ini, karena mereka tinggal dan besar di sini, dan sudah ratusan kali pulang-pergi ke sini. Dan Alhamdulillaah, ternyat amereka punya jalur alternatif. Jalur alternatif ini tidak memerlukan kami menyeberang sungai, namun harus melalui jalur yang cukup terjal dan sempit, melipir pinggir sungai.

Karena hari sudah beranjak senja, maka kami berjalan cepat dan tanpa istirahat sama sekali. Setengah perjalanan, hari sudah gelap, apalagi di jalur-jalur di dalam hutan. Mana aku ini kan penderita rabun senja! Sungguh aku berjalan dengan konsentrasi penuh menyesuaikan kecepatan bapak pemandu dan tidak mau kehilangan pandangan punggungnya sedikit pun. Tak lupa, segala doa aku panjatkan kepada Allah SWT, memohon keselamatan dan tidak ada kejadian apapun selama aku dalam perjalanan.

Pada satu waktu, tepat ketika aku selesai mengucapkan salam kepada para penghuni hutan (mengikuti ucapan bapak pemandu di belakangku) — Assalamualaikum wahai penghuni hutan, kurasakan lenganku ditangkap oleh bapak pemandu yang berjalan di belakangku. Astaghfirullah, ternyata aku salah mengambil jalur!! Aku mengambil jalur ke kiri, padahal seharusnya aku bergerak naik ke arah kanan. Langsung aku merinding, dan mengucap istighfar berkali-kali. Bayangkan kalau bapak pemandu di belakangku tidak cermat mengawasiku, mungkin aku sudah hilang di hutan. Naudzubillahi min dzallik.

Singkat cerita, sampailah kami akhirnya ke Posko. Alhamdulillaah, kuucapkan berkali-kali. Aku sudah tidak ingat lagi jam berapa berangkat, jam berapa tiba, atau berapa lama kami berjalan. Yang kurasa, betisku kencang dan paha bawah terasa pegal. Aku bersyukur aku bisa sampai tanpa kurang suatu apa, walaupun kami benar-benar berjalan tanpa berhenti isitirahat sedetik pun.

Setelah istirahat beberapa jenak, bapak pemandu mengajak kami untuk ikut serta dalam acara selamatan dan syukuran mereka. Bapak pemandu bilang, tunggu saja ya, kambingnya sedang dimasak, kita makan sama-sama nanti. Haha… benar-benar hari ini adalah hari baik, dan rezeki kami sedang bagus. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

 

kerinci i’m in love, part-2

Esok paginya, tanggal 31 Desember 2013, kami bersiap lagi melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah langsung ke Shelter-3 –perhentian terkahir sebelum perjalanan menuju puncak dan atap Sumatera. Kali ini, aku bergabung dengan grup kecil para pendaki gaek yang happy happy joy joy dan selalu bercanda sepanjang perjalanan. Grup ini juga adalah grup sweeper, artinya grup paling belakang yang memastikan bahwa semua anggota rombongan memang dipastikan telah lewat. Track dari Shelter-1 ke Shelter-2 ini bahkan lebih menanjak lagi, dan seringkali juga tanjakan harus dilalui dengan memanjat dengan bergantung pada akar-akar pepohonan.

photo 1

 

IMG_5987

Dan perjalanan selanjutnya, dari Shleter-2 ke Shelter-3 adalah fase yang benar-benar menguji ketahanan fisik dan mentalku secara pribadi. Pada track ini, kami harus berpindah-pindah dan memilih-milih apakah harus berjalan melewati ceruk yang menjadi jalan air, ataukah lewat bibir gunung, memanjat dan bergantungan pada batang dan akar pohon. Dari seuruh jalur pendakian, jalur inilah yang terberat menurutku 0–misalnya saja, dari satu pijakan ke pijakan lain dengkul kita bisa menyentuh dada sakin tingginya. Satu yang kami mohonkan, agar hujan lebat tidak turun. Jika hujan lebat turun, maka cerukan yang kami lewati akan menjadi jalur air, dan akan sulit berjalan sambil melawan aliran air hujan yang mengalir ke bawah. Dengan kemiringan lereng yang cukup tajam, niscaya aliran air akan deras. Di track ini pulalah di satu titik aku nyaris putusa asa dan ingin menangis rasanya, akibat kehilangan fokus sehingga sulit bagiku memilih pijakan dan ke mana harus bergerak. Yang membuatku kehilangan fokus adalah teriakan-teriakan dan seruan kegembiraan orang-orang yang sudah sampai di Shelter-3 yang terdengar sampai di tempatku berada, membuatkau ingin segera sampai di sana. Namun di sisi lain pula kurasakan mengapa perjalanan ini tak ada habis-habisnya, dan mengapa tak juga sampai aku di Shelter-3 tersebut. Beruntung aku bersama para pendaki senior yang siap siaga membantuku, mengulurkan tangan, menunjukkan ke mana kakiku harus kupijakkan, dan ke mana aku harus bergerak.

IMG_6015

Pada satu posisi yang relatif aman, tak sengaja aku menengok ke belakang dari bibir lereng. Dan Subhanallaah pemandangan yang kulihat membuat mulutku ternganga dan ingin menangis karena haru rasanya. Gumpalan awan putih dan semburat jingga matahari yang mulai terbenam adalah pemandangan senja terindah yang pernah kualami seumur hidupku. Awan-awan seputih kapas ada di depan kita seakan-akan kasur empuk yang menunggu untuk dilompati ke atasnya. Dan tak kusia-siakan kesempatan itu untuk berfoto-foto sejenak, sambil mengatur nafas, mengembalikan fokusku pada pendakian, dan memicu semangat lagi.

photo 5

photo 4

photo 21

Menjelang Maghrib, sampailah rombongan kami di Shelter-3. Angin keras menerpa begitu kami tiba di Shelter-3 yang memang posisinya terbuka mirip lapangan kecil. Dingin udara bercampur angin menusuk hingga ke tulang. Seluruh persediaan jacket akhirnya aku pakai –jacket polar di paling dalam, lalu jacket windbreaker dan jacket raincoat. Tak lupa kupluk dan sarung tangan pun aku kenakan. Kembali aku menatap tiada henti tumpukan awan putih tebal yang ada di bawahku –ya, aku literally berada di negeri di atas awan, serta semburat matahari yang perlahan menghilang dan mengubah sekelilingku menjadi semesta berwarna biru. Tak ingin rasanya mata ini berkedip agar bisa kuabadikan pemandangan indah ini di dalam benakku selamanya.

photo 22

photo 20

Malam itu tidurku tak terlalu nyenyak. Angin keras menderu-deru. Udara dingin menusuk menembus sleeping bag-ku. Tenda kami cukup besar dan tinggi sehingga angin leluasa masuk ke dalam. Ini pelajaran bagi tim untuk tidak membawa tenda besar ke atas gunung. Berkali-kali aku buang air kecil akibat udara dingin, yang terpaksa kulakukan tak jauh dari tenda karena cuaca gelap sehingga sulit berjalan terlalu jauh.

Dan saat yang dinanti-nanti pun tiba. Sejenak angin berhenti bertiup. Semua orang keluar dari tenda dan merayakan tahun baru!! Yeiiyyy!! Riuh rendah suara orang berteriak-teriak. Bahkan ada yang membawa terompet dan kembang api. Letupan warna-warni menerangi angkasa yang beku. Namun aku tak kuasa bergerak dari posisi nyamanku di dalam sleeping bag. Biarlah mereka-mereka bergembira. Bagiku tahun baru sama saja. Hanya kali ini aku tak merayakannya bersama keluarga di rumah. Dan lucunya, setelah perayaan yang berlangsung sekitar 10-15 menit, angin kembali menderu-deru. Dalam hati kuputuskan bahwa aku akan berdiam saja di tenda dan tak akan naik ke puncak. Manalah aku berani menghadapi angin yang menderu-deru seolah ingin menerbangkanku.

Maka ketika kawanku si Mukri membangunkan aku sekitar jam 3 dini hari untuk mengajakku ke puncak, kutolak ajakannya. Kubilang aku sudah bulat hati tidak mau ke puncak. Mendengar suara angin yang menderu-deru saja sudah ciut nyaliku. Apalagi harus berjalan di tengah-tengahnya. Maka berangkatlah Mukri dengan rombongan pertama menuju puncak Kerinci di 3.805 meter di atas permukaan laut. Sekita jam 04.30 kawanku Nik serta para pendaki senior lainnya, kembali membangunkanku untuk mengajak ke puncak. Semula aku masih bertahan untuk tidak ikut, namun entah kenapa hati kecilku mendorong untuk ikut saja. I am in a good hand. Jangan khawatir, mereka pasti menjagaku –begitu kata hati kecil, yang kemudian kuikuti. Maka kukenakan sepatu, kupluk, sarung tangan, dan jacket tumpuk tiga. Tak lupa senter kecil yang kupegang dengan jari-jari yang hampir tak bisa merasakan apa-apa. Keluarlah aku dari tenda. Di luar sudah banyak kawan-kawan berkumpul. Kami pun mengatur barisan dan tata tertib selama pendakian ke puncak. Mereka bilang pendakian ini sekitar 3 jam dengan jalur berpasir berbatu yang suka lepas. Jadi hati-hati melangkah adalah pesan utama yang diberikan.

Berjalanlah aku bersama rombongan, dengan mata yang setengah rabun karena gelap dan angin yang menderu-deru hebat bagai ingin menerbangkanku. Jalur menanjak sekitar 60-an derajat menyambut kami. Pelan kami bergerak. Sekali-sekali kami naik dibantu tali saking sulitnya kaki mendapat pijakan yang ajeg dan tidak berguguran. Kadang kami harus berhenti dan duduk di dalam parit jika angin kencang bertiup. Untung kami bersama dengan pendaki senior yang sangat paham seluk beluk dan sifat dari Gunung Kerinci ini.

Setelah agak lama juga berjalan, aku bertanya kepada temanku, masih jauh kah puncak Kerinci itu. Dia menunjukkan, nah itu yang di sebelah kiri namanya Puncak Geger, sementara puncak Kerinci itu yang di atas sebelah kanan itu, katanya. Wooww masih jauh juga ternyata. Tiba-tiba kakiku terasa lemas, dan dayaku seolah-olah terbang, aku jadi tak bertenaga. Dalam hati aku bilang, wah nampaknya aku nggak akan bisa sampai puncak. Tak terlalu jauh di atasku, kulihat banyak orang berhenti untuk berfoto-fot. Kutanya pada temanku, tempat apa itu. Dia bilag, itu Batu Gantung –karena posisi batu besar itu memang bergantung, alias di bawahnya tidak ada penyangganya. Serta merta aku bilang, ya sudah, puncakku di sana aja. Puncakku di Batu Gantung itu. Aku udah nggak sanggup lagi.

So ikutlah dua orang temanku berhenti di sana. Mereka nggak tega meninggalkan aku sendirian di sana sambil menunggu rombongan turun dari puncak. Di sana kami mengabadikan pemandangan yang tak ada duanya dalam hidupku. Awan-awan putih bergumpal bagai kasur empuk yang siap menampung badan siapa pun yang lelah. Ingin rasanya melompat ke atasnya! Lihat saja foto-fot di bawah ini!

photo 31

photo 30

photo 32

Singkat cerita, tercapailah hajatku mendaki Gunung Kerinci. Dan Alhamdulillah rombongan kami turun dengan selamat tanpa kurang suatu apa.

kerinci i’m in love, part-1

Confirmed, aku sekarang jadi junkie gunung!

Setelah terakhir naik gunung di tahun 2011, Gunung Gede, kembali aku ditawari naik gunung di akhir tahun 2013 lalu. Tawaran itu datang dari temanku yang berdiam di Jambi. Dalam salah satu obrolan kami ketika dia berkunjung ke Jakarta, ndilalah obrolan ngalor ngidul sampai ke topik cerita-cerita perjalanan. Dan dia langsung bilang,”Ayo mbak Yaya, kita naik Gunung Kerinci akhir tahun ini, sambil ngerayain tahun baru.” Wow, bagiku itu ide yang sangat brilian, dan juga satu hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Yah, memang hal-hal baru selalu menarik perhatianku. Jadilah saat itu kami deal, bahwa aku akan ke Jambi menjelang malam tahun baru dan bersama-sama dengan dia dan pasukannya naik ke puncak Kerinci.

Setelah dia pulang, iseng-iseng aku consult ke mbah Google. Masukkan keyword Gunung Kerinci. Dan apa yang kubaca kontan membuat deg-degan dan darah berdesir. Di layar komputer disebutkan bahwa Gunung Kerinci adalah gunung api tertinggi di Pulau Sumatera! Dan gunung api tertinggi di Indonesia. Bukan itu saja, Gunung Kerinci juga merupakan puncak tertinggi kedua di Indonesia (3.805 meter di atas permukaan laut) –setelah puncak Jaya Wijaya di Papua. Oh nooooo!! Me and my big mouth again!

Kekhawatiran bertambah setelah aku ngobrol-ngobrol lagi dengan temanku yang anak outdoor dan punya pengalaman naik gunung, si Sonya. Dia bilang, “Yakin lo mau naik Kerinci? Itu tracknya terkenal susah lho!” Hiks hiks.. sungguh mau nangis dan putusa harapan rasanya mendengar itu. Apalagi kan pengalaman naik gunungku yang beneran cuma Gunung Gede itu aja (yah, Bromo dan Gunung Ijen nggak termasuk ‘mendaki beneran’ kali yaa) itu pun di tahun 2011.

Tapi entah kenapa, tarikan untuk meniatkan perjalanan ke Gunung Kerinci ini cukup kuat di dalam hati sini. Antara takut dan berharap, antara khawatir dan kepingin, pokoknya campur aduk perasaan. Tapi aku bilang pada diri sendiri, ya udah, gak usah terlalu berharap, tapi tetap diupayakan sebisa mungkin. Dan hal pertama yang kupikirkan tentu aja soal fisik. Dan Alhamdulillah, sejak pertengahan tahun lalu aku sudah mulai bergiat jogging. So, rencana naik Kerinci ini menjadi motivasi tambahan selain keinginan untuk tetap sehat dan bugar.

Maka jadilah aku rajin lari, minimal 3 kali dalam seminggu, dua kilometer setiap kalinya. Plus berenang juga kulakukan di saat-saat terakhir menjelang keberangkatan. Nggak salah-salah, 400 meter in one shot. Pheeww! Kira-kira satu bulan sebelum tanggal keberangkatan, temanku sudah kirim woro-woro lagi, bahkan menyebarluaskan di media sosial, mengajak orang-orang lain untuk bergabung. Semua sudah dipersiapkan oleh dia dan pasukannya. Kami-kami yang diundang untuk naik gunung ini cuma harus bawa badan, perlengkapan pribadi dan kamera! Hahahaa.. Hasil konsultasiku dengan si Sonya, dia bilang yang terpenting adalah ransel yang aku bawa harus enak, sehingga nggak akan merepotkan. Maka belilah aku daypack baru. Sleeping bag tadinya mau beli juga, tapi temanku satu lagi, si Duy, punya satu yang sedang tidak ia gunakan. So kupinjamlah sleeping bag Duy yang Alhamdulillah ukurannya cukup kecil.

Maka, tanggal 28 Desember, berangkatlah aku ke Jambi. Ibu-bapak, kakak-adik, semua mengingatkan: hati-hati, musim hujan. Yah aku cuma bisa berdoa dalam hati semoga Tuhan Yang Maha Kuasa merestui perjalananku ini. Sesampainya di markas temanku di Jambi, kudapat kabar bahwa ternyata peserta naik gunung kali ini ada 30 orang. Hahahaa… oke lah, the merrier the happier, the better. Temanku bahkan mengajak anak dan istrinya juga. Malam itu, rombongan advance team berangkat lebih dulu. Perjalanan dari kota Jambi ke Kayu Aro, di mana Basecamp pendakian berada (disebut juga lokasi R10), memakan waktu sekitar 10 jam, jika lalu lintas normal dan tiada hambatan. Sementara itu, rombongan kami para tetua dan senior ini berangkat pada tanggal 29 Desember pagi hari.

Keesokan harinya tanggal 29 Desember, berangkatlah aku, seorang temanku dari Jakarta, si Mukri, dan empat orang dari Jambi lainnya (termasuk temanku, Nauli serta anak dan istrinya, dan Nik temanku yang lain). Perjalanan dari kota Jambi ke Kayu Aro lumayan lama dan lumayan agak membosankan. Untung istri Nauli (Kak Wita) ikut dalam perjalanan ini, sehingga kami penumpang lainnya “tidak berkewajiban” jadi co-driver yang harus melek terus menemani supir. Hehehhee…

Singkat kata, kami sampai di Basecamp R10 Kayu Aro sudah malam. Kayu Aro ternyata sebagian besar adalah hamparan kebun teh peninggalan jaman Belanda. Udara dingin menerpa saat kami keluar dari mobil dan masuk ke tenda yang sudah disiapkan oleh Tim Advance. Langsung aku berpikir, di Basecamp aja dinginnya udah kayak gini, gimana di atas ya… Untung aku bawa perlengkapan yang lumayan memadai — 3 buah jacket (jacket untuk udara dingin, light jacket wind breaker untuk pendakian, dan rain coat), 5 pasang kaos kaki, kupluk, scarf, dan juga sarung tangan. Untuk perjalanan seperti ini, aku selalu menjaga kakiku agar selalu kering dan hangat. Karena dari kaki inilah berawal segala cerita dropnya stamina dan kemungkinan terserang sakit dan sejenisnya. Untung sepatu pendakianku sepatu kulit yang tahan air, plus 2 pasang kaos kaki yang kupakai cukuplah kiranya melindungi kakiku ini.

Keesokan harinya, tanggal 30 Desember pagi, rombongan kamipun bersiap. Rombongan dari markas di Jambi, ketambahan rombongan sahabat-sahabatnya Nauli, para pendaki senior yang sudah puluhan kali naik Kerinci. Bertambahlah aku yakin dan merasa lebih aman lagi. Sekitar jam 10.00 rombongan kami berangkat dari Basecamp R10 ke Pintu Rimba yang berjarak sekitar 6 kilometer, melintasi kebun teh dan kebun sayur masyarakat. Untungnya, ada mobil yang mengantar kami ke Pintu Rimba. Jika tidak, 6 km melalui jalan aspal bisa jadi adalah perjalanan yang sangat membosankan dan buang waktu saja.

Memasuki Pintu Rimba, aku terus mengingatkan diri sendiri untuk menjaga ritme berjalanku, dan juga mengucapkan salam kepada para penghuni rimba dan gunung sebagai kulonuwun, serta berdoa kepada Tuhan sebanyak-banyaknya yang aku bisa. Gunung, hutan, laut, bukanlah tempat di mana kita bisa bermain-main. Tidak omong sembarangan, dan berbuat serampangan, serta tidak sombong dan jumawa, adalah rule of thumb yang wajib kita patuhi. Perjalanan kami pagi ini ditujukan untuk mencapai Shelter-1 di mana kami akan camping dan bermalam. Dari Pintu Rimba ke Shelter-1 terdapat 3 pos peristirahatan yang harus kami lalui.

Alhamdulillah hari itu cuaca cukup cerah. Bahkan ketika mulai memasuki hutan dan track pendakian, kudengar ramai sekali kicau burung-burung di atas kepala kami. Kubilang, Alhamdulillah alam berbahagia dan menyambut kita. Track menuju Shelter-1 merupakan track panjang dan terus mendaki. Jarang sekali kami mendapat bonus –istilah jika ada track datar atau sedikit menurun. Hutan cukup rapat dan diisi oleh pohon-pohon kayu besar. Indah sekali pemandangannya dan membuat aku berdecak kagum. Aku mengekor temanku Mukri yang cukup baik mengatur ritme perjalanan kami. Kami berjalan dalam kelompok-kelompok kecil terdiri atas 5-7 orang dan tidak memaksakan diri untuk cepat-cepat sampai.

Walaupun kami berjalan santai, tapi tetap track yang menanjak tiada henti ini menguras tenaga dan membuat kami capek. Maka tak heran sering sekali kami berhenti sejenak untuk mengejar nafas dan minum-ngemil seadanya. Satu nasihat dari Sonya, kalau minum dalam perjalanan itu secukupnys saja, sekedar membasahi kerongkongan dan tidak perlu sampai begah. Pun kalau makan, nggak perlu banyak-banyak dan sampai penuh perutnya. Selain itu, Kerinci ini ternyata tidak memiliki sungai. Air agak sulit didapat karena mata airnya hanya mengandalkan air hujan, sehingga kita musti berhemat air.

1557410_10202373013958736_2111446798_o

photo 2

Di sepanjang track ini banyak sekali kami bertemu rombongan pendaki lainnya yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia –ada dari Jawa, Sulawesi, dan lain-lain. Bahkan ada yang akhirnya bareng dengan kami berjalan.

Sekitar jam 16.00 sampailah kami di Shelter-1. Spontan ucapan Alhamdulillah keluar dari mulutku begitu mencapai Shelter-1. Lucunya, di Shelter-1 ini sinyal handphone masih ada. Aku bahkan dengan sukses bisa mengakses internet. Iseng aku browsing, berapa ketinggian Shelter-1 ini, dan kudapat angka 2516 mdpl (meter di atas permukaan laut). Subhanallah. Kulihat di balik semak ada awan sejajar dengan kita. Kembali aku merinding dan mengucap syukur tak henti-henti. Alhamdulillah sejak kami naik hingga malam kami menginap di Shelter-1 cuaca selalu cerah dan hujan hanya rintik-rintik kecil saja. Namun udara tetap saja dingin menusuk. Kukenakan jacket double dua saat meringkuk tak bergerak di dalam sleeping bag-ku yang hangat.

IMG_5981

 

IMG_5971

Malam itu aku tidur tak terlalu nyenyak, selain karena sempitnya tenda kami (berisi aku, kak Wita, anaknya si Wili dan Nauli), juga temanku si Nauli ini ternyata pengorok berat. Hahahaa.. Kaki pegal yang tak bisa diluruskan serta dinginnya udara membuatku terbangun berkali-kali malam itu. Anyway…

(bersambung ke part-2 )