life in analogue

It feels like I was thrown back to some 15-20 years ago when the word digital was not known — or if it was, it was only known to may be a handful of people. After being used to using digicam, specifically digi-mobilephone camera, now it has become hip again to use analogue camera.

I still remember my older brother and sister who joined phoography club when they were in high school, using SLR cameras. I also remember the time when I still used analogue camera when other people already used digital camera. An now I regret that I did not keep all my analogue camera carefully.

At that time I never worry that the result of my shots would be good or bad. Now, I do worry if my shots wil be failures. Hahaha..

In social media Instagram, there are a lot of youngsters –the ones in the age of 20s that are now shifting to use analogue camera. I can imagine, when the world was still in analogue mode, they may not have aware of the life yet, they even may not have been born yet. When they grow up and have realized about life, the world is already in digital. While I, like I wrote above, feel like going back to my past life.

So here are some of my shots, taken during my last trip, to Manhattan, New York City, last month. I used Olympus Trip AF30 pocket camera, and Fuji Film Superia 200 (2008 expired). To see more of my analogue photos, go here

IMG_5930.JPG

IMG_5935.JPG

IMG_5922.JPG

IMG_5923.JPG

IMG_5960.JPG

IMG_5986.JPG

IMG_5961.JPG

gunung gede, part-1

20111228-154914.jpg

Baiklah, sekarang aku akan memenuhi janji menceritakan pengalamanku mendaki Gunung Gede. Sudah lama sebenarnya keinginan menuliskan pengalaman ini tetapi selau tertunda akibat campuran kesibukan, kemalasan dan kelupaan. So, here we go…

Semuanya berawal dari ajakan seorang temanku, Mbak Sandra, yang tiba-tiba mengirimkan message di inbox Facebook mengajak aku dan dua orang teman lainnya untuk mendaki Gunung Gede. Dua orang temanku menolak karena mereka sudah ada kegiatan lain pada hari yang sama, sementara aku langsung menyambut baik ajakan itu. Beberapa alasan yang mendasari sambutan baikku itu, pertama, pikiranku lagi suntuk banget, so suatu pengalih perhatian menjadi sesuatu yang exiting buatku. Kedua, aku memang sudah lama ingin mencoba mendaki gunung yang sesungguhnya, bukan hanya sekedari piknik dan jalan-jalan, tapi benar-benar mendaki dan camping di atas gunung sana. Ketiga, waktuku sedang lowong. Sudah sering aku merencanakan perjalanan bersama teman-temanku namun selalu tidak kejadian akibat berbagai halangan waktu. Seperti orang banyak bilang, sesuatu yang tidak direncanakan malah sering kejadian dibandingkan dengan sesuatu yang telah direncanakan dengan matang. Segeralah aku mendaftar pada teman Mbak Sandra yang menjadi organizer dari pendakian ini, Joan. Itu satu minggu sebelum keberangkatan yang direncanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Oktober 2011.

Eh, ndilalah ndilalah, tiba-tiba muncul urusan pekerjaan yang tidak memungkinkan aku untuk pergi pada tanggal tersebut. Dengan berat hati aku batalkan keikutsertaanku, sambil merutuk dalam hati ‘gagal maning, gagal maning!!’. Tapi orang bilang kalau tidak jodoh kemana-mana, tapi kalau jodoh nggak kemana-mana, beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Mbak Sandra dan temannya, Mbak Ida di suatu acara. Dan yang terjadi terjadilah. Mbak Sandra dengan sepenuh hati membujukku untuk mendaftar kembali dan bilang, “…kalau kerjaan aja sih akan selalu ada yaa…”. Hmmmm…she has the point. So dengan sedikit keahlian dalam pendelegasian (hehehhee…) dan pengelolaan waktu, jadilah kuputuskan untuk kembali mendaftar. Yeaaayyyy!!!

But, thhe devil is always in the detail. Bilang ikut mendaki adalah satu hal, tapi mempersiapkannya adalah hal lain. Mulailah aku berpikir, peralatan mendaki apa yang aku punya? Carrier? ada, tapi entah dimana keberadaannya. Sepatu mendaki? Nope. Sleeping bag? errrr…gak punya. Matras? ooh perlu ya? (nanya balik). Satu-satunya barang outdoor yang aku punya ya jaket dan celana panjang cepat-kering. Mulailah aku mengontak kawanku si Mai yang berhobby mendaki untuk meminjam sepatu gunungnya. Oke, dia bilang “Ambil aja di kantor gue hari Jumat ya!”

So the plan was, hari Jumat malam, rombongan akan berangkat ke Cibodas dari terminal bus Kampung Rambutan. Bermalam di satu warung di Cibodas dan hari Sabtu pagi sekali berangkat ke jalur pendakian. Alright. Jumat sore bergegas aku kantor temanku untuk mengambil sepatu gunung. Tak disangka tak diduga, si sepatu tidak ada disana. Aku telpon temanku, dan dia bilang lupa. Oh nooo! Singkat kata, aku putuskan untuk segera pergi ke toko outdoor dan membeli sepatu gunung baru! Tapi itu berarti aku akan sangat terlambat sampai di terminal bus. Akhirnya kuhubungi Joan dan bilang bahwa aku akan menyusul ke Cibodas besok sebelum subuh diantar oleh adikku. By the way, pada saat aku menelpon Joan aku belum tahu apakah adikku akan pulang ke rumah malam ini. Well, kubilang dalam hati ‘que sera sera’. Setelahnya, segera kutelpon adikku dan memaksanya untuk mengantarkan aku ke Cibodas besok pagi-pagi. Dan dia mengiyakan! Alhamdulillaah.