nyarai

Di akhir minggu yang lalu aku punya kesempatan untuk mengunjungi satu tempat yang sangat amazing –bukan hanya karena keindahan tempatnya, tapi juga karena effort yang diperlukan untuk mencapai tempat tersebut lumayan berat juga.

Ceritanya, setelah tiga hari melaksanakan tugas di Padang, aku sengaja extend 3 hari untuk mengunjungi beberapa tempat di Sumatera Barat. Awalnya tujuanku adalah melakukan train-adventuring, alias bertamasya keliling Sumbar dengan kereta api. Sudah jadi cita-citaku sejak lama untuk naik kereta di Sumbar yang jalurnya melipir perbukitan –jalur yang selalu aku lihat dari pinggir jalan jika aku melakukan perjalanan Padang-Bukit Tinggi. Namun setelah mencari beberapa informasi, baik secara online maupun bertanya kepada kawan-kawan di Padang, kudapati bahwa sekarang ini sudah tidak ada lagi perjalanan antar-kota di Sumatera Barat dengan menggunakan kereta api. Kalaupun ada beberapa route hanyalah untuk kereta wisata. Misalnya jalur Sawah Lunto ke Padang Panjang, itu pun hanya ada di hari Minggu saja. Ada jalur kereta yang beroperasi setiap hari dari Kota Padang ke Pariaman. Namun menurut kawanku, jlaur itu jalur biasa saja –mendatar dan tidak ada pemandangan yang menarik.

So gagal lah keinginanku untuk naik kereta api di Sumatera. Secara iseng-iseng, karena tadinya aku berniat ke Pariaman naik kereta api, ku-googling “ada apa di Pariaman”, dan satu gambar yang langsung membuatku tertarik adalah gambar air terjun dengan latar depan air berwarna kehijauan. Waww.. aku buka lamannya, dan terpampanglah di sana Nyarai. Dari informasi yang kudapat, Nyarai ini terletak di Kecamatan Lubuk Aluang, Kabupaten Pariaman. Untuk menunju air terjun Nyarai, kita harus berjalan kaki atau trekking selama 3 jam. Hmmmm… Sounds very interestring, terutama setelah berkali-kali rencanaku untuk mendaki Gunung Papandayan –dalam rangka latihan menuju Gunung Rinjani dan Semeru (Aamiin..), selalu gagal akibat satu dan lain hal.

Maka, bertanyalah aku pada kawanku, bagaimana caranya aku menuju Nyarai. Kebetulan, kawanku yang sudah cukup senior, Bang R, mengenal baik komunitas yang mengelola kawasan Nyarai ini –yang sekarang sudah menjadi daerah wisata dengan komunitas setempat sebagai pengelolanya. Maka, mereka mulai mengatur-atur perjalananku. Yah inilah enaknya kalau punya banyak teman di berbagai daerah. Mereka bilang, “Tenang aja, mbak, kami atur semua.” Alhamdulillaah. So, rencana yang mereka susun adalah, besok pagi-pagi kami berempat akan pergi ke Pariaman naik sepeda motor. Dari sana kami harus bertemu dengan kawannya Bang R yang akan membawa kami ke kawasan Nyarai. Oke, quite a simple plan.

Singkat cerita, keesokan harinya –Jumat, pergilah kami ke Pariaman dan sampai di kawasan Nyarai. Dari Kota Padang ke jalan masuk ke Kecamatan Lubuk Alung memakan waktu satu jam jika naik sepeda motor. Lalu dari sana kami harus berkendaraan selama murang lebih 15 menit untuk sampai di Posko Wisata Nyarai. Tapiii, ndilalah, ternyata hari Jumat adalah hari Libur bagi pengelola. So nggak ada seorangpun pemandu yang stand-by di Posko tersebut. Dan sesuai aturan, mereka tidak mau melanggar dengan mengijinkan kami untuk pergi.

20140430-212320.jpg

20140430-212257.jpg

Tapi kata orang, kalau memang sudah jodoh nggak akan ke mana-mana. Ternyata hari itu komunitas pengelola berniat melakukan syukuran memperingati setahun dibukanya kawasan ini dan bekerjanya mereka secara bersama-sama mengelola kawasan ini. Bapak penjaga Posko bilang, nanti lepas sholat Jumat kami boleh naik bersama dengan masyarakat yang lain, yang akan melakukan upacara potong kambing di atas air terjun. Rencananya daging kambing tersebut akan dimasak dan menjadi hidangan utama untuk acara syukuran. Kami menyambut baik usulan ini dan menunggu hingga hari siang.

Sekitar pukul 2 siang, berangkatlah rombongan kami berempat ini. Kami ditemani oleh seoarang pemandu yang dipanggil oleh kawan-kawan mereka sebagai “Juru Kunci”. Abang Juru Kunci ini masih muda usianya, berbadan tegap dan gempal. Saat mulai berjalan dia bertanya, “Ini kalian anak mama-papa atau bukan?” Woohhoo tentu aja kami menolak dibilang anak mama-papa. Kami bilang, kami ini pecinta lingkungan loh dan sudah biasa bermain di alam. Duerr our big mouths get the price. Abang Kuncen bilang, okelah kalau begitu, untuk menghemat waktu, karena kita berangkat sudah siang, maka kita akan berjalan cepat. Kan kalian anak alam. Nggak usah foto-foto di perjalanan, ya! Begitu kira-kira kata Abang Kuncen, sambil ngelirik aku yang berseragam serba Fuchsia (baca: Pink ngejreng hihi…) mulai daypack, sepatu, hingga jaket. Hahahhaaa…

20140430-212351.jpg

Sebagai gambaran, jalur trekking dari Posko ke air terjun Nyarai berjarak 3,5 km. Biasanya, jarak sedemikian ditempuh dalam waktu 3 jam oleh para pengunjung. Tapi karena Kuncen bilang kita akan berjalan cepat, maka berjalan cepat lah kita. Dan sungguh, jalur trekking ini bukanlah jalur yang mudah. Pertama, jalurnya naik-turun. Kalaupun ada jalur bonus yang mendatar, biasanya itu adalah di sepanjang kebun warga yang medannya terbuka. Jadi cuaca panas dan terik di siang itu cukup menghabiskan energi kami. Di setiap kilometer dari jalur trekking tersebut terdapat pokso-posko di mana pengunjung bisa beristirahat sejenak. Dan sejenak bagi kami, adalah tak lebih dari 5 menit. Tapi jangan tanya pemandangannya! Sepanjang jalur yang menyusuri pinggir sungai, kami bisa melihat aliran sungai yang bening, penuh dengan batu-batuan besar yang sangat indah. Ingin rasanya berhenti sejenak untuk memotret, tapi Kuncen nggak mengijinkan. Buang waktu, katanya. Well, berhubung kami adalah pengunjung yang tak diharapkan, yang datang di hari off, dan bisa ikut karena kemurahan hati mereka, maka pasrah lah aku mengikuti perkataan Bang Kuncen.

Setelah sampai di posko terakhir yang harus dicapai dengan menyeberangi sungai, dan berjalan sekitar 500 meter dari sana, sampailah kami di lokasi. Dan sungguh, apa yang aku lihat membuat mulitku ternganga dan mataku terbelalak. Woowwww…

Hilang sudah kelelahan dan rasa capek, bertukar dengan ucapan “Subhanallah” dan “Alhamdulillaah”. Setelah melihat jam, ternyata jarak 3,5 km dari Posko ke air terjun Nyarai ini kami tempuh dalam waktu 1,5 jam (saja). Pheewww… Alhamdulillah kebiasaanku jogging cukup membantu mempertahankan stamina dan fisikku hingga nggak tumbang.

20140430-212632.jpg

20140430-212656.jpg

20140430-212600.jpg

Maka, berfoto-fotolah kami di sana, sepuas-puasnya. Tak berapa lama, rombongan yang lain datang dan bergabung dengan rombongan yang telah datang sebelum kami. Mereka pun bergerak naik ke bagian atas dari air terjun. Di aliran air yang berasal dari hutan tersebut, mereka melakukan pemotongan anak kambing dan membiarkan darahnya mengalir turun ke air terjun Nyarai. Tentu saja diserta dengan doa demi kelancaran dan keselamatan bagi semua pengunjung yang akan mereka dampingi. Tak lama setelah mereka selesai menguliti si anak kambing, hujan pun turun. Cukup deras dan agak lama. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore. Bisa dipastikan bahwa kami akan terlambat turun.

20140430-212439.jpg

20140430-212936.jpg

20140430-212925.jpg

20140430-212722.jpg

Setelah hujan reda, rombongan kami pun bergerak turun. Aku agak khawatir karena pasti aliran sungai cukup deras sehabis hujan, padahal kami harus menyeberang sungai kembali. Namun dalam hati aku percaya bahwa para pemandu ini sudah sangat paham daerah ini, karena mereka tinggal dan besar di sini, dan sudah ratusan kali pulang-pergi ke sini. Dan Alhamdulillaah, ternyat amereka punya jalur alternatif. Jalur alternatif ini tidak memerlukan kami menyeberang sungai, namun harus melalui jalur yang cukup terjal dan sempit, melipir pinggir sungai.

Karena hari sudah beranjak senja, maka kami berjalan cepat dan tanpa istirahat sama sekali. Setengah perjalanan, hari sudah gelap, apalagi di jalur-jalur di dalam hutan. Mana aku ini kan penderita rabun senja! Sungguh aku berjalan dengan konsentrasi penuh menyesuaikan kecepatan bapak pemandu dan tidak mau kehilangan pandangan punggungnya sedikit pun. Tak lupa, segala doa aku panjatkan kepada Allah SWT, memohon keselamatan dan tidak ada kejadian apapun selama aku dalam perjalanan.

Pada satu waktu, tepat ketika aku selesai mengucapkan salam kepada para penghuni hutan (mengikuti ucapan bapak pemandu di belakangku) — Assalamualaikum wahai penghuni hutan, kurasakan lenganku ditangkap oleh bapak pemandu yang berjalan di belakangku. Astaghfirullah, ternyata aku salah mengambil jalur!! Aku mengambil jalur ke kiri, padahal seharusnya aku bergerak naik ke arah kanan. Langsung aku merinding, dan mengucap istighfar berkali-kali. Bayangkan kalau bapak pemandu di belakangku tidak cermat mengawasiku, mungkin aku sudah hilang di hutan. Naudzubillahi min dzallik.

Singkat cerita, sampailah kami akhirnya ke Posko. Alhamdulillaah, kuucapkan berkali-kali. Aku sudah tidak ingat lagi jam berapa berangkat, jam berapa tiba, atau berapa lama kami berjalan. Yang kurasa, betisku kencang dan paha bawah terasa pegal. Aku bersyukur aku bisa sampai tanpa kurang suatu apa, walaupun kami benar-benar berjalan tanpa berhenti isitirahat sedetik pun.

Setelah istirahat beberapa jenak, bapak pemandu mengajak kami untuk ikut serta dalam acara selamatan dan syukuran mereka. Bapak pemandu bilang, tunggu saja ya, kambingnya sedang dimasak, kita makan sama-sama nanti. Haha… benar-benar hari ini adalah hari baik, dan rezeki kami sedang bagus. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.