kerinci i’m in love, part-1

Confirmed, aku sekarang jadi junkie gunung!

Setelah terakhir naik gunung di tahun 2011, Gunung Gede, kembali aku ditawari naik gunung di akhir tahun 2013 lalu. Tawaran itu datang dari temanku yang berdiam di Jambi. Dalam salah satu obrolan kami ketika dia berkunjung ke Jakarta, ndilalah obrolan ngalor ngidul sampai ke topik cerita-cerita perjalanan. Dan dia langsung bilang,”Ayo mbak Yaya, kita naik Gunung Kerinci akhir tahun ini, sambil ngerayain tahun baru.” Wow, bagiku itu ide yang sangat brilian, dan juga satu hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Yah, memang hal-hal baru selalu menarik perhatianku. Jadilah saat itu kami deal, bahwa aku akan ke Jambi menjelang malam tahun baru dan bersama-sama dengan dia dan pasukannya naik ke puncak Kerinci.

Setelah dia pulang, iseng-iseng aku consult ke mbah Google. Masukkan keyword Gunung Kerinci. Dan apa yang kubaca kontan membuat deg-degan dan darah berdesir. Di layar komputer disebutkan bahwa Gunung Kerinci adalah gunung api tertinggi di Pulau Sumatera! Dan gunung api tertinggi di Indonesia. Bukan itu saja, Gunung Kerinci juga merupakan puncak tertinggi kedua di Indonesia (3.805 meter di atas permukaan laut) –setelah puncak Jaya Wijaya di Papua. Oh nooooo!! Me and my big mouth again!

Kekhawatiran bertambah setelah aku ngobrol-ngobrol lagi dengan temanku yang anak outdoor dan punya pengalaman naik gunung, si Sonya. Dia bilang, “Yakin lo mau naik Kerinci? Itu tracknya terkenal susah lho!” Hiks hiks.. sungguh mau nangis dan putusa harapan rasanya mendengar itu. Apalagi kan pengalaman naik gunungku yang beneran cuma Gunung Gede itu aja (yah, Bromo dan Gunung Ijen nggak termasuk ‘mendaki beneran’ kali yaa) itu pun di tahun 2011.

Tapi entah kenapa, tarikan untuk meniatkan perjalanan ke Gunung Kerinci ini cukup kuat di dalam hati sini. Antara takut dan berharap, antara khawatir dan kepingin, pokoknya campur aduk perasaan. Tapi aku bilang pada diri sendiri, ya udah, gak usah terlalu berharap, tapi tetap diupayakan sebisa mungkin. Dan hal pertama yang kupikirkan tentu aja soal fisik. Dan Alhamdulillah, sejak pertengahan tahun lalu aku sudah mulai bergiat jogging. So, rencana naik Kerinci ini menjadi motivasi tambahan selain keinginan untuk tetap sehat dan bugar.

Maka jadilah aku rajin lari, minimal 3 kali dalam seminggu, dua kilometer setiap kalinya. Plus berenang juga kulakukan di saat-saat terakhir menjelang keberangkatan. Nggak salah-salah, 400 meter in one shot. Pheeww! Kira-kira satu bulan sebelum tanggal keberangkatan, temanku sudah kirim woro-woro lagi, bahkan menyebarluaskan di media sosial, mengajak orang-orang lain untuk bergabung. Semua sudah dipersiapkan oleh dia dan pasukannya. Kami-kami yang diundang untuk naik gunung ini cuma harus bawa badan, perlengkapan pribadi dan kamera! Hahahaa.. Hasil konsultasiku dengan si Sonya, dia bilang yang terpenting adalah ransel yang aku bawa harus enak, sehingga nggak akan merepotkan. Maka belilah aku daypack baru. Sleeping bag tadinya mau beli juga, tapi temanku satu lagi, si Duy, punya satu yang sedang tidak ia gunakan. So kupinjamlah sleeping bag Duy yang Alhamdulillah ukurannya cukup kecil.

Maka, tanggal 28 Desember, berangkatlah aku ke Jambi. Ibu-bapak, kakak-adik, semua mengingatkan: hati-hati, musim hujan. Yah aku cuma bisa berdoa dalam hati semoga Tuhan Yang Maha Kuasa merestui perjalananku ini. Sesampainya di markas temanku di Jambi, kudapat kabar bahwa ternyata peserta naik gunung kali ini ada 30 orang. Hahahaa… oke lah, the merrier the happier, the better. Temanku bahkan mengajak anak dan istrinya juga. Malam itu, rombongan advance team berangkat lebih dulu. Perjalanan dari kota Jambi ke Kayu Aro, di mana Basecamp pendakian berada (disebut juga lokasi R10), memakan waktu sekitar 10 jam, jika lalu lintas normal dan tiada hambatan. Sementara itu, rombongan kami para tetua dan senior ini berangkat pada tanggal 29 Desember pagi hari.

Keesokan harinya tanggal 29 Desember, berangkatlah aku, seorang temanku dari Jakarta, si Mukri, dan empat orang dari Jambi lainnya (termasuk temanku, Nauli serta anak dan istrinya, dan Nik temanku yang lain). Perjalanan dari kota Jambi ke Kayu Aro lumayan lama dan lumayan agak membosankan. Untung istri Nauli (Kak Wita) ikut dalam perjalanan ini, sehingga kami penumpang lainnya “tidak berkewajiban” jadi co-driver yang harus melek terus menemani supir. Hehehhee…

Singkat kata, kami sampai di Basecamp R10 Kayu Aro sudah malam. Kayu Aro ternyata sebagian besar adalah hamparan kebun teh peninggalan jaman Belanda. Udara dingin menerpa saat kami keluar dari mobil dan masuk ke tenda yang sudah disiapkan oleh Tim Advance. Langsung aku berpikir, di Basecamp aja dinginnya udah kayak gini, gimana di atas ya… Untung aku bawa perlengkapan yang lumayan memadai — 3 buah jacket (jacket untuk udara dingin, light jacket wind breaker untuk pendakian, dan rain coat), 5 pasang kaos kaki, kupluk, scarf, dan juga sarung tangan. Untuk perjalanan seperti ini, aku selalu menjaga kakiku agar selalu kering dan hangat. Karena dari kaki inilah berawal segala cerita dropnya stamina dan kemungkinan terserang sakit dan sejenisnya. Untung sepatu pendakianku sepatu kulit yang tahan air, plus 2 pasang kaos kaki yang kupakai cukuplah kiranya melindungi kakiku ini.

Keesokan harinya, tanggal 30 Desember pagi, rombongan kamipun bersiap. Rombongan dari markas di Jambi, ketambahan rombongan sahabat-sahabatnya Nauli, para pendaki senior yang sudah puluhan kali naik Kerinci. Bertambahlah aku yakin dan merasa lebih aman lagi. Sekitar jam 10.00 rombongan kami berangkat dari Basecamp R10 ke Pintu Rimba yang berjarak sekitar 6 kilometer, melintasi kebun teh dan kebun sayur masyarakat. Untungnya, ada mobil yang mengantar kami ke Pintu Rimba. Jika tidak, 6 km melalui jalan aspal bisa jadi adalah perjalanan yang sangat membosankan dan buang waktu saja.

Memasuki Pintu Rimba, aku terus mengingatkan diri sendiri untuk menjaga ritme berjalanku, dan juga mengucapkan salam kepada para penghuni rimba dan gunung sebagai kulonuwun, serta berdoa kepada Tuhan sebanyak-banyaknya yang aku bisa. Gunung, hutan, laut, bukanlah tempat di mana kita bisa bermain-main. Tidak omong sembarangan, dan berbuat serampangan, serta tidak sombong dan jumawa, adalah rule of thumb yang wajib kita patuhi. Perjalanan kami pagi ini ditujukan untuk mencapai Shelter-1 di mana kami akan camping dan bermalam. Dari Pintu Rimba ke Shelter-1 terdapat 3 pos peristirahatan yang harus kami lalui.

Alhamdulillah hari itu cuaca cukup cerah. Bahkan ketika mulai memasuki hutan dan track pendakian, kudengar ramai sekali kicau burung-burung di atas kepala kami. Kubilang, Alhamdulillah alam berbahagia dan menyambut kita. Track menuju Shelter-1 merupakan track panjang dan terus mendaki. Jarang sekali kami mendapat bonus –istilah jika ada track datar atau sedikit menurun. Hutan cukup rapat dan diisi oleh pohon-pohon kayu besar. Indah sekali pemandangannya dan membuat aku berdecak kagum. Aku mengekor temanku Mukri yang cukup baik mengatur ritme perjalanan kami. Kami berjalan dalam kelompok-kelompok kecil terdiri atas 5-7 orang dan tidak memaksakan diri untuk cepat-cepat sampai.

Walaupun kami berjalan santai, tapi tetap track yang menanjak tiada henti ini menguras tenaga dan membuat kami capek. Maka tak heran sering sekali kami berhenti sejenak untuk mengejar nafas dan minum-ngemil seadanya. Satu nasihat dari Sonya, kalau minum dalam perjalanan itu secukupnys saja, sekedar membasahi kerongkongan dan tidak perlu sampai begah. Pun kalau makan, nggak perlu banyak-banyak dan sampai penuh perutnya. Selain itu, Kerinci ini ternyata tidak memiliki sungai. Air agak sulit didapat karena mata airnya hanya mengandalkan air hujan, sehingga kita musti berhemat air.

1557410_10202373013958736_2111446798_o

photo 2

Di sepanjang track ini banyak sekali kami bertemu rombongan pendaki lainnya yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia –ada dari Jawa, Sulawesi, dan lain-lain. Bahkan ada yang akhirnya bareng dengan kami berjalan.

Sekitar jam 16.00 sampailah kami di Shelter-1. Spontan ucapan Alhamdulillah keluar dari mulutku begitu mencapai Shelter-1. Lucunya, di Shelter-1 ini sinyal handphone masih ada. Aku bahkan dengan sukses bisa mengakses internet. Iseng aku browsing, berapa ketinggian Shelter-1 ini, dan kudapat angka 2516 mdpl (meter di atas permukaan laut). Subhanallah. Kulihat di balik semak ada awan sejajar dengan kita. Kembali aku merinding dan mengucap syukur tak henti-henti. Alhamdulillah sejak kami naik hingga malam kami menginap di Shelter-1 cuaca selalu cerah dan hujan hanya rintik-rintik kecil saja. Namun udara tetap saja dingin menusuk. Kukenakan jacket double dua saat meringkuk tak bergerak di dalam sleeping bag-ku yang hangat.

IMG_5981

 

IMG_5971

Malam itu aku tidur tak terlalu nyenyak, selain karena sempitnya tenda kami (berisi aku, kak Wita, anaknya si Wili dan Nauli), juga temanku si Nauli ini ternyata pengorok berat. Hahahaa.. Kaki pegal yang tak bisa diluruskan serta dinginnya udara membuatku terbangun berkali-kali malam itu. Anyway…

(bersambung ke part-2 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s